Sabtu, 29 Desember 2018

Sejarah Keraton Kesultanan Sambas (Lisma Astria)


SEJARAH KERATON KESULTANAN SAMBAS
ISTANA ALWATZIKHOEBBILLAH

Gambar 1.gerbang 2 keraton.

Kesultanan Sambas adalah kesultanan yang terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat. Kesultanan Sambas adalah penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan sambas sebelumnya. Kerajaan yang bernama Sambas di wilayah ini paling tidak telah berdiri dan berkembang sebelum abad ke-14 M.
Keraton atau Istana Alwatzikhoebbillah terletak di sebuah pusat kota yang bernama Sambas, jarak yang ditempuh untuk mencapai kota ini dari pusat kota Pontianak sekitar 175 km/jam dan cukup memakan waktu sekitar 5 jam jika menggunakan transportasi sepeda motor atau mobil. Pusat Kerajaan Kota Sambas ini terletak di sebuah desa yang bernama desa Dalam Kaum kecamatan sambas, tepatnya di pingir sungai besar sambas tak jauh dari jembatan yang juga salah satu peninggalan bersejarah dari kerajaan sambas yang bernama “Geratak Saboek”. Selain itu letaknya juga tidak jauh dari lokasi dinas pemerintahan Kabupaten Sambas, jadi Istana Ini lebih mendapat perhatian khusus dari pemerintah.
Bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632 (sekarang telah dihancurkan). Keraton yang masih berdiri sampai sekarang dibangun pada masa pemerintahan Raden Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan Muhammad Ibrahim Safiuddin) pada tahun 1933. Sebagai sebuah keraton di tepian sungai dibangun dermaga tempat perahu/kapal Sultan. Dermaga yang terletak tepat di depan keraton di kenal dengan nama jembatan seteher.
Asal usul nama Keraton Alwatzikhoebillah sendiri artinya Berpegang teguh dengan ketentuan Allah. Kini Istana Alwatzikhoebillah Sambas, dirawat oleh generasi penerus kesultanan. Bangunan yang teridiri dari tiga bagian utama ini masih kokoh berdiri.
Sebelumnya, kota sambas hanya menjadi ibu kota kecamatan, yang dahulu beribu kota di Singkawang pada tahun  (1957-1999). Dahulu sejarah Kesultanan Sambas adalah sebuah Kerajaan Kesultanan Terbesar di  Kalimantan Barat. Sejak Sultan Sambas yang pertama yaitu Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668), Kesultanan Sambas terkenal besar pada masa itu.
Kejayaan Kesultanan Sambas telah membesarkan nama Sambas pada masa itu, sampai pada Sultan Sambas ke-15 yaitu Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943). Kerajaan Sambas sirna ketika Sultan ke-15 wafat karena ditangkap dan dibunuh oleh tentara jepang pada tahun 1943. Sebelumnya kejayaan sambas sesungguhnya tidak hanya dimulai dari Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668). Sejak dahulu abad ke-13 M, sudah terdahulu ada kekuasaan raja-raja Sambas. Yang bermula dari kedatangan prajurit dari majapahit di paloh. Dan dahulu kala pusat kerajaan sambas berpindah di sebuah desa yang bernama Kota Lama, kemudian pindah lagi ke kota bangun, dari kota bangun pindah lagi ke kota bandir dan kemudian pindah lagi ke lubuk madung, pusat kerajaan ini telah beberapa kali berpindah.
Barulah pada masa Sultan ke-2 yaitu Raden Bima gelar Sultan Muhammad Tajuddun (1668-1708) pusat Kesultanan Sambas dibangun di Muara Ulakan. Di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas kecil, sungai subah, dan sungai Tebarau. Sejak tahun 1668 Kota Sambas itu meliputi daerah Pemangkat, Singkawang, dan daerah sambas sendiri, yang kaya akan emas.
Sejak zaman pendudukan jepang dan NICA (1942-1950), integritas Kerajaan Sambas telah sirna karena terlibat dengan pergolakan perang Dunia II. Ketika daerah sambas atau Kalimantan Barat kembali bernaung di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950,dibentuknya pemerintahan administrative Kabupaten Sambas, rakyat sambas menuntut agar kota Sambas tetap menjadi sebuah Kabupaten yang terdiri sejak tanggal 15 juli 1999 hingga sekarang. Pemerintahan Kabupaten Sambas  berkedudukan di kota Sambas.
Bangunan Keraton menghadap ke arah barat, kea rah sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat sungai Sambas Kecil, dan ke arah selatan terdapat Sungai Teberau. Di sekeliling tanahb keraton merupakan daerah rawa-rawa dan mengelompok di beberapa tempat terdapatg makam keluarga sultan.
Pada saat ini Kerajaan Sambas masih berdiri, sebagai sebuah Keraton di tepian sungai sambas, yang mana saat ini Keraton Sambas adalah salah satu tempat bersejarah yang sering dikunjungi oleh masyarakat setempat atau dari luar daerah dan luar negri. Bangunan keraton ini memiliki gerbang masuk yang menuju halaman keraton yang dibuat bertingkat dua, pada saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan agar rakyat seluruh kota mendengar ketika ada hal yang ingin diumumkan kepada rakyat. Bagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan tempat peristrahatan bagi rakyat yang ingin menghadap Sultan.
Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan, pengunjung dapat melihat tiang bendera yang disangga empat batang tiang, yang berada di tengah halaman keraton. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan tiang penyangganya melambangkan sebagai 4 pembantu sultan. Dan dibawah tiang bendera terdapat 2 buah meriam, dan salah satunya meriam tersebut diberikan dengan nama Gantar Alam.
Di samping keraton juga terdapat satu buah masjid peninggalan  dari Kesultanan Sambas, bangunan masjid ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan mushola. Di bangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi, kemudian masjid itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Safiuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami’ dan diresmikan pada tanggal 10 oktober 1885 Masehi. Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat.
Gambar 2. Masjid Jami’ Keraton Sambas.

Sebelum memasuki keraton, dari halaman yang ada tiang benderanya, kita akan malalui lagi satu buah gerbang. Gerbang masuk ini juga terdiri dari dua lantai sama dengan gerbang masuk yang pertama, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Fungsi dari gerbang di bagian lantai bawah adalah untuk para penjaga yang bertugas selama 24 jam, dan diatas gerbang digunakan untuk tempat keluarga sultan bersantai.
Setelah melewati gerbang dan pagar halaman, kemudian pengunjung bisa langsung sampai pada bangunan Keraton. Di dalam kompleks keraton pengunjung akan menemukan tiga buah bangunan. Di sebalah kiri bangunan utama terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada zaman dahulu bangunan ini berfungsi sebagai dapur. Di sebelah kanan juga terdapat bangunan yang sama besarnya dengan ukuran dapur, bangunan idi dihubungkan dengan koridor beratap bangunan ini adalah tempat sultan dan para pembantunya bekerja.
Di dalam bangunan ruang kerja sultan terdapat beberapa  benda pusaka bersejarah, yaitu Meriam lele yang berjumlah 7 buah , hingga saat ini masih dianggap sebagai barang keramat yang sering dikunjungi penduduk, masing masing meriam tersebut mempunyai nama, yaitu Raden Mas, Raden Samber, Ratu Kilat, Ratu pejajaran,Raden Pajang, Panglima  Guntur, Ratu Putri.
Bangunan utama keraton, terdiri dari beberapa ruangan, yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur Sultan, kamar tidur istri Sultan, kamar tidur anak-anak Sultan, ruang keluarga, ruang makan, dan ruang khusus menjahit. Di bagian atas ambang pintu terdapat lambing Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan Van Sambas” dan angka tahun 15 juli 1933. Angka tahun ini merupakan tahun di resmikannya bangunan keraton.
Diruangan pertama kita akan menemukan ruang tamu yang cukup luas yang mempunyai kursi tamu yang cukup unik bernuansa kerajaan, dan tiga buah cermin yang berukuran besar yang masing masing di simpan pada sudut ruang tamu, terdapat juga dua buah guci besar peninggalan kerajaan disimpan dalam lemari kaca yang berada di samping kiri dan kanan sebelum memasuki ruang tengah keraton. Foto – foto kesultanan sambas berjejeran pada setiap dinding ruangan. Salah satu pemandangan yang cukup menarik dari  sebuah foto yang  diambil pada tahun 1937, di sebuah foto tersebut diberikan keterangan yang bertulisan “Sultan Moh. Mulia Ibrahim dan Permaisuri bersilaturahmi di rumah orang kaya di Kampung Tumok.
Di bagian dalam bangunan ini, terdapat 3 buah kamar, salah satu kamar yang menyita perhatian adalah kamar tidur Sultan yang dimana kamar itu bernuansa kuning yang melambangkan warna khas kesultanan sambas. Di dalam kamar tersebut tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya tempat tidur sultan, pakaian kebesaran, pakayan pengantin adat sambas, payung kesultanan, pedang, dan meja tulis sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas.
Di bagian belakang Keraton terdapat sebuah kolam peninggalan pada masa kesultanan terdahulu. Dan di bidang tanah yang masih bagian dari tanah keraton terdapat beberapa rumah yang dibangun, rumah itu merupakan rumah yang di huni oleh pemiliknya yang masih punya hubungan darah dengan raja-raja sambas. Sekarang di bagian samping keraton dapat kita jumpai sebuah halaman olah raga, lapangan volli.
Keraton saat ini dijaga oleh kerabat dekat kesultanan. Kondisi Keraton pada saat ini masiih terjaga, walaupun ada beberapa bangunan keraton yang sudah agak rusak dan perlu perbaikan. Keraton setiap hari tidak pernah sepi pengunjung.
Harapan Penulis kedepannya adalah semoga pemerintah yang bukan hanya di kabupaten sambas lebih memperhatikan dan memberikan dukungan yang lebih untuk pembangunan dan peningkatan tempat wisata bersejarah yang ada di Kabupaten Sambas. Dan sangat perlu juga peran kita sebagai pengunjung agar selalu mejaga keindahan halaman keraton sambas, untuk melestarikan lingkungan keraton.






PENULIS : LISMA ASTRIA
NIM          :102201757














1 komentar: