Sabtu, 08 Desember 2018

SEJARAH MESJIT RADEN SULAIMAN(Eriyani)


SEJARAH MESJIT RADEN SULAIMAN



                Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Bukti adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa lampau adalah adanya peninggalan sejarah. Salah satu bukti sejarah yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah mesjit (surau) peninggalan Raden Sulaiman yang berada di dusun Kota Bangun.
Desa Kota Bangun adalah nama sebuah desa yang berada di desa sebangun, kecamatan sebawi, kabupaten sambas Kalimantan barat. Letak desanya sangat strateris karena keberadaannya di pertigaan sungai kota bangun. Orang setempat menyebutnya sungai muara kota bangun, kenapa di sebut muara, karena sungai tersebut mengandung angker.
Di desa sebangun tepatnya di dusun kota bangun berdirinya sebuah mesjit peninggalan raden sulaiman  tepatnya di tikungan dusun kota bangun. Keberadaan mesjit tersebut jauh dari keramaian dan juga usia mesjit tersebut sudahlah sangat tua. Mesjit tersebut sangatlah lama karena keberadaannya lebih lama dari kesultanan sambas, yang di dirikan oleh Raden Sulaiman saat menjadi raja pertama di kesultanan sambas.
Mesjit sampai saat ini masih kokoh walaupun bangunan asal sudah tidak ada lagi. Di dalam mesjit itu hanya ada 4 tiang yang masih kokoh dan menjadi penyanggah mesjit tersebut. Walaupun bangunan lainnya sudah tidak bisa untuk digunakan.
Menurut orang setempat khususnya di dusun Kota Bangun, tepatnya di mesjit (surau) Raden Sulaiman tersebut terdapat beberapa peninggalan. Peninggalan tersebut berupa tempayan ukuran besar, 4 tiang, 2 tempayan yang berukuran besar dan kecil.
Tepat di depan mesjit itu pula juga ada tempayan yang berukuran besar. Menurut orang setempat tempayan tersebut di gunakannya raden sulaiman untuk memandikan anal-anaknya di hari jumat. Namun sekarang tempayan tersebut digunakan untuk mandi wudhu dan membasuh kaki saat untuk memasuki mesjit tersebut.
Di samping tempayan besar tersebut juga ada batu yang melebar. Batu tersebut di gunakan raden sulaiman untuk berpijaknya kaki untuk mengambil air di tempayan. Tempayan tersebut di isi air lalu di gunakan untuk memandikan anak-anak nya di hari jumat.
Tempayan itu menurut orang setempat pernah pecah dan terbelah menjadi 2(dua). Faktor panas dan perubahan cuaca sehingga membuat tempayan itu menjadi pecah. Karena adanya kerja sama masyarakat setempat untuk memperbaiki tempayan tersebut menjadi utuh seperti sedia kala.
Di samping mesjit Raden Sulaiman tepatnya disamping kanan mesjit tersebut ada sebuah sumur. Menurut kepercayaan orang setempat menyebutnya Telaga, tapi sekarang Telaga tersebut sudah tidak terlihat lagi. Menerut orang setempat telaga tersebut digunakan untuk ambil air wudhu apabila saat melaksanakat shalat.
Di dalam mesjit Raden Sulaiman masih berdirinya 4(empat)  tiang yang masih kokoh. Adanya tiang yang berdiri di tengah-tengah dalam mesjit itu terbuat dari kayu belian. Menurut orang setempat tiang tersebut sengaja tidak di bongkar, karena ketahanannya masih layak untuk di buat bangunan mesjit itu sendiri.
Mesjit tersebut di perkirakan sudah berumur tiga ratus lebih tahun lamanya. Mungkin hal ini di karenakan bahan bangunannya adalah kayu yang kuat seperti kayu belian sehingga masih ada peninggalan sejarahnya. Karena usia mesjit yang cukup lama dinding, lantai, beserta atapnya sudah di ganti dengan yang baru, sebelum di renopasi dahulu dinding yang brada di dalam mesjit berbentuk vertical sekarang bentuknya garis horizontal.
Di dalam mesjit Raden Sulaimanjuga ada beberapa peninggalan lainnya, yaitu 2(dua) buah tempayan. Tempayan tersebut ada 2(dua) ukuran, yaitu ukuran sedang dan ukuran kecil. Yang biasa di jadikan Kubah masjit dan satunya di letakkan sebagai kubah dibangunan utama dan satunya di letakkan di kubah mihrab.
Di dalam mesjit tersebut juga ada tongkat khatib yang berukuran kurng lebih satu meter. Tongkat khatib tersebut terbuat dari kayu belian yang di ukir menjadi sekian rupa. Sampai sekarang tongkat tersebut masih digunakan orang setempat sebagai tongkat ketika khatib sedang membacakan khotbah.
Menurut orang setempat tongkat khatib tersebut memiliki nilai-nilai mistis hal tersebut dikarenakan pernah terjadi peristiwa pada saat kejadian orang yang mengambil tanpa izin mendapatkan musibah. Pada saat orang mengambil tongkat tersebut, orang yang mengambil tongkat itu di beri mimpi untuk dikembalikan tongkat tersebut di tempat semula. Karena itu, tongkat tersebut di pandang memiliki nilai mistis, dari itu juga kita harus menghargai peningggalan bersejarah.
Itu lah sejarah yang masih di jaga masyarakat sebangun, itu juga jadi kebanggaan masyarakat sebangun. Nah disini anak-anak muda desa sebangun membuat bagaimana caranya agar Sejarah tersebut menjadi Desa Wisata. Karena di desa sebangun banyak potensi wisata sejarah, wisata alam bahkan wisata sungai.
Untuk itu, maka di desa sebangun yang juga merupakan mempunyai sejarah peninggalan Raden Sulaiman. Dimana syari’at islam pertama kali di sebarkan di dusun Kota Bangun. Dengan di buktikan adanya peninggalan mesjit (surau) yang di bangun Raden Sulaiman dengan mengandung konsep sungai.
Anak muda desa sebangun mempunyai semangat yang kuat untuk membuat bagaimana desa sebangun menjadi desa wisata sejarah dengan kosep sungai. Karena anak muda desa sebangun ingin membuat bagaimana agar desa tersebut menjadi maju. Nah disini anak muda krang taruna berbagi ide dengan masyarakat, bagaimana jika mengenalkan sejarah ke wisatawan dengan menggunakan wisata sungai.
Tepatnya di Dusun Sebawi B ada peninggalan Meriam dari Belanda. Menurut orang setempat meriam tersebut di pindahkan dari desa seberang lalu di bawa ke dusun sebawi, tidak tahu pasti kapan terjadinya pemindahan meriam tersebut. Sekarang lingkungan meriam tersebut sangat memperhatinkan.
Sekarang masyarakat sebangun ingin mengapresiasikan bagaimana desa sebangun menjadi desa Wisata Sejarah. Dan di sini juga bagai mana tempat yang kurang layak untuk peninggalan sejarah menjadi tempat yang pantas untuk menyimpan peninggalan sejarah tersebut. Desa sebangun perlu pembinaan masyarakat untuk mempersiapkan  lebih matang lagi untuk menjadikan  Desa Wisata Sejarah.
Dari yang kita ketahui desa sebangun memiliki banyak sejarah, dari mesjit Raden Sulaiman, tempayan batu, tongkat khatib,tempayan yang berukuran besar, sedang, dan yang kecil. Kita ketahui juga di dalam mesjit Raden Sulaiman juga masih berbaur sejarah karena masih ada 4 tiang yang masih kokoh. Sekarang yang kita ketahui bahwa sejarah terjadi di masa lampau, dengan adanya peninggalan sejarah, salah satu bukti sejarah adalah Surau Raden Sulaiman.

NAMA   : ERIYANI
PRODI   : PGMI NON REGULER
NIM       : 102 2017 042

Tidak ada komentar:

Posting Komentar