SEJARAH MESJIT RADEN SULAIMAN
Sejarah merupakan peristiwa yang
terjadi pada masa lampau. Bukti adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa
lampau adalah adanya peninggalan sejarah. Salah satu bukti sejarah yang bisa
kita lihat sampai saat ini adalah mesjit (surau) peninggalan Raden Sulaiman
yang berada di dusun Kota Bangun.
Desa Kota Bangun adalah nama sebuah desa yang berada di desa sebangun,
kecamatan sebawi, kabupaten sambas Kalimantan barat. Letak desanya sangat
strateris karena keberadaannya di pertigaan sungai kota bangun. Orang setempat
menyebutnya sungai muara kota bangun, kenapa di sebut muara, karena sungai
tersebut mengandung angker.
Di desa sebangun tepatnya di dusun kota bangun berdirinya sebuah mesjit
peninggalan raden sulaiman tepatnya di
tikungan dusun kota bangun. Keberadaan mesjit tersebut jauh dari keramaian dan
juga usia mesjit tersebut sudahlah sangat tua. Mesjit tersebut sangatlah lama
karena keberadaannya lebih lama dari kesultanan sambas, yang di dirikan oleh
Raden Sulaiman saat menjadi raja pertama di kesultanan sambas.
Mesjit sampai saat ini masih kokoh walaupun bangunan asal sudah tidak
ada lagi. Di dalam mesjit itu hanya ada 4 tiang yang masih kokoh dan menjadi
penyanggah mesjit tersebut. Walaupun bangunan lainnya sudah tidak bisa untuk
digunakan.
Menurut orang setempat khususnya di dusun Kota Bangun, tepatnya di
mesjit (surau) Raden Sulaiman tersebut terdapat beberapa peninggalan.
Peninggalan tersebut berupa tempayan ukuran besar, 4 tiang, 2 tempayan yang
berukuran besar dan kecil.
Tepat di depan mesjit itu pula juga ada tempayan yang berukuran besar.
Menurut orang setempat tempayan tersebut di gunakannya raden sulaiman untuk
memandikan anal-anaknya di hari jumat. Namun sekarang tempayan tersebut
digunakan untuk mandi wudhu dan membasuh kaki saat untuk memasuki mesjit
tersebut.
Di samping tempayan besar tersebut juga ada batu yang melebar. Batu
tersebut di gunakan raden sulaiman untuk berpijaknya kaki untuk mengambil air
di tempayan. Tempayan tersebut di isi air lalu di gunakan untuk memandikan
anak-anak nya di hari jumat.
Tempayan itu menurut orang setempat pernah pecah dan terbelah menjadi
2(dua). Faktor panas dan perubahan cuaca sehingga membuat tempayan itu menjadi
pecah. Karena adanya kerja sama masyarakat setempat untuk memperbaiki tempayan
tersebut menjadi utuh seperti sedia kala.
Di samping mesjit Raden Sulaiman tepatnya disamping kanan mesjit
tersebut ada sebuah sumur. Menurut kepercayaan orang setempat menyebutnya
Telaga, tapi sekarang Telaga tersebut sudah tidak terlihat lagi. Menerut orang
setempat telaga tersebut digunakan untuk ambil air wudhu apabila saat
melaksanakat shalat.
Di dalam mesjit Raden Sulaiman masih berdirinya 4(empat) tiang yang masih kokoh. Adanya tiang yang
berdiri di tengah-tengah dalam mesjit itu terbuat dari kayu belian. Menurut
orang setempat tiang tersebut sengaja tidak di bongkar, karena ketahanannya
masih layak untuk di buat bangunan mesjit itu sendiri.
Mesjit tersebut di perkirakan sudah berumur tiga ratus lebih tahun
lamanya. Mungkin hal ini di karenakan bahan bangunannya adalah kayu yang kuat
seperti kayu belian sehingga masih ada peninggalan sejarahnya. Karena usia
mesjit yang cukup lama dinding, lantai, beserta atapnya sudah di ganti dengan
yang baru, sebelum di renopasi dahulu dinding yang brada di dalam mesjit
berbentuk vertical sekarang bentuknya garis horizontal.
Di dalam mesjit Raden Sulaimanjuga ada beberapa peninggalan lainnya,
yaitu 2(dua) buah tempayan. Tempayan tersebut ada 2(dua) ukuran, yaitu ukuran
sedang dan ukuran kecil. Yang biasa di jadikan Kubah masjit dan satunya di
letakkan sebagai kubah dibangunan utama dan satunya di letakkan di kubah
mihrab.
Di dalam mesjit tersebut juga ada tongkat khatib yang berukuran kurng
lebih satu meter. Tongkat khatib tersebut terbuat dari kayu belian yang di ukir
menjadi sekian rupa. Sampai sekarang tongkat tersebut masih digunakan orang
setempat sebagai tongkat ketika khatib sedang membacakan khotbah.
Menurut orang setempat tongkat khatib tersebut memiliki nilai-nilai
mistis hal tersebut dikarenakan pernah terjadi peristiwa pada saat kejadian
orang yang mengambil tanpa izin mendapatkan musibah. Pada saat orang mengambil
tongkat tersebut, orang yang mengambil tongkat itu di beri mimpi untuk
dikembalikan tongkat tersebut di tempat semula. Karena itu, tongkat tersebut di
pandang memiliki nilai mistis, dari itu juga kita harus menghargai peningggalan
bersejarah.
Itu lah sejarah yang masih di jaga masyarakat sebangun, itu juga jadi
kebanggaan masyarakat sebangun. Nah disini anak-anak muda desa sebangun membuat
bagaimana caranya agar Sejarah tersebut menjadi Desa Wisata. Karena di desa
sebangun banyak potensi wisata sejarah, wisata alam bahkan wisata sungai.
Untuk itu, maka di desa sebangun yang juga merupakan mempunyai sejarah
peninggalan Raden Sulaiman. Dimana syari’at islam pertama kali di sebarkan di
dusun Kota Bangun. Dengan di buktikan adanya peninggalan mesjit (surau) yang di
bangun Raden Sulaiman dengan mengandung konsep sungai.
Anak muda desa sebangun mempunyai semangat yang kuat untuk membuat
bagaimana desa sebangun menjadi desa wisata sejarah dengan kosep sungai. Karena
anak muda desa sebangun ingin membuat bagaimana agar desa tersebut menjadi maju.
Nah disini anak muda krang taruna berbagi ide dengan masyarakat, bagaimana jika
mengenalkan sejarah ke wisatawan dengan menggunakan wisata sungai.
Tepatnya di Dusun Sebawi B ada peninggalan Meriam dari Belanda. Menurut
orang setempat meriam tersebut di pindahkan dari desa seberang lalu di bawa ke
dusun sebawi, tidak tahu pasti kapan terjadinya pemindahan meriam tersebut.
Sekarang lingkungan meriam tersebut sangat memperhatinkan.
Sekarang masyarakat sebangun ingin mengapresiasikan bagaimana desa sebangun
menjadi desa Wisata Sejarah. Dan di sini juga bagai mana tempat yang kurang
layak untuk peninggalan sejarah menjadi tempat yang pantas untuk menyimpan
peninggalan sejarah tersebut. Desa sebangun perlu pembinaan masyarakat untuk
mempersiapkan lebih matang lagi untuk
menjadikan Desa Wisata Sejarah.
Dari yang kita ketahui desa sebangun memiliki banyak sejarah, dari
mesjit Raden Sulaiman, tempayan batu, tongkat khatib,tempayan yang berukuran
besar, sedang, dan yang kecil. Kita ketahui juga di dalam mesjit Raden Sulaiman
juga masih berbaur sejarah karena masih ada 4 tiang yang masih kokoh. Sekarang
yang kita ketahui bahwa sejarah terjadi di masa lampau, dengan adanya
peninggalan sejarah, salah satu bukti sejarah adalah Surau Raden Sulaiman.
NAMA : ERIYANI
PRODI : PGMI NON REGULER
NIM : 102 2017 042


Tidak ada komentar:
Posting Komentar