Sabtu, 08 Desember 2018

KISAH REMAJA TEGAR


“Kisah Remaja Tegar”

      Ada seorang gadis remaja ia bernama Elsa Safitri, ia lahir di pelosok Kampung Kabupaten Sambas tepatnya Kampung Mengkudu. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, ayah dan ibunya yang biasa ia panggil dengan panggilan “mak & ayah”. Pekerjaan ayah dan ibunya sebagai seorang pejuang memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu seorang petani handal. Ia memiliki seorang  saudara kandung kakak laki-laki yang bernama lengkap M. Azi Hidayatullah dan ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Gadis remaja ini sekarang menempuh pendidikan lanjutan keperguruan tinggi yang berada Di Sambas Kota.
      Masa kanak-kanak ia lalui dengan bahagia. Hidup di tengah keluarga yang sederhana membuat ia mengerti akan pentingnya kebahagian, yang dimana dibangun dari keluarga itu sendiri, kasih sayang orang tua yang lengkap dan masa bermain yang indah ia lalui dengan sempurna. Tak ada hari yang suram untuk dilewati masa kanak-kanak pada saat itu. Ia memiliki cita-cita yang begitu mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia yakin hasil tidak akan menghianati usaha, ingin sekali cita-cita yang ia impikan bisa tercapai.
      Perjuangan yang ia tempuh dari awal hingga sekarang begitu menyedihkan, orang tua yang di awal ragu akan anaknya yang akan berhasil dengan alasan ekonomi, sempat membuat semangat yang ia banggakan selama ini runtuh seketika. Pada saat itu juga yang ia merupakan seorang anak yang berbakti dan penurut kepada orang tua tak banyak berbuat apa-apa. Ia beranggapan bahwa cita-cita yang ia inginkan selama ini berakhir tanpa perjuangan.
     Tepat tahun 2007, kabar buruk mengejutkan bahwa sang ibu di diagnosa mengidap penyakit liver, bagai disambar petir di siang bolong yang dimana pada saat itu sang ayah telah merantau ke negara tetangga akibat ekonomi yang mulai merosot. Tak ada yang menginginkan hal ini, tapi Tuhan telah menakdirkan, dia dan kakak laki-lakinya pada saat itu hanya memikirkan bagaimana membuat sang ibu sembuh dan hidup lebih lama lagi bersama kedua anaknya. Bersyukur ia masih diberikan kesempatan merawat sang ibu. Tiba saatnya tepat pada tanggal 15 Januari 2008, sang ibunda berpulang, dan ia tak tau apa yang harus ia lakukan, dunia luruh saat itu, jeritan tangisnya memenuhi seisi dunia ini, ia berfikir bahwa Tuhan begitu tega kepadanya, mengambil tanpa permisi terhadap apa yang ia sayangi dan cintai. Ia tak bisa mengikhlaskan begitu saja, menganggap hal ini adalah mimpi semata. Karena selama tak ada ayah disisi mereka, sang ibu lah yang menggantikan.
      Kehidupan tetap ia jalani sebagai mana mestinya, ia sadar bahwa hari esok telah menunggu. Ia tidak bisa hanya meratapi saja tanpa melakukan perubahan, ia sadar ini kebaikan untuknya, ia ingin membuktikan dan membuat bangga kepada almarhumah sang bunda, bahwa ia bisa seperti mereka pada umumnya. Ia mulai menata perjalanan hidupnya kembali. Ia merantau tak tentu arah hanya ingin meraih pendidikan sebagai mana mestinya, sempat keluar kota banyak pengalaman yang ia dapatkan di sana. Singkat cerita lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) disalah satu Madrasah Aliyah ternama yang berada di Kota Pontianak, ia kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan ke jenjang Perkuliahan, kerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Semoga allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada nya, kepada gadis remaja yang begitu tegar. TERIMA KASIH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar