Ada seorang gadis remaja ia bernama
Elsa Safitri, ia lahir di pelosok Kampung Kabupaten Sambas tepatnya Kampung
Mengkudu. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, ayah dan ibunya yang
biasa ia panggil dengan panggilan “mak & ayah”. Pekerjaan ayah dan ibunya
sebagai seorang pejuang memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu seorang petani
handal. Ia memiliki seorang saudara
kandung kakak laki-laki yang bernama lengkap M. Azi Hidayatullah dan ia merupakan
anak kedua dari dua bersaudara. Gadis remaja ini sekarang menempuh pendidikan
lanjutan keperguruan tinggi yang berada Di Sambas Kota.
Masa kanak-kanak ia lalui dengan bahagia.
Hidup di tengah keluarga yang sederhana membuat ia mengerti akan pentingnya
kebahagian, yang dimana dibangun dari keluarga itu sendiri, kasih sayang orang
tua yang lengkap dan masa bermain yang indah ia lalui dengan sempurna. Tak ada
hari yang suram untuk dilewati masa kanak-kanak pada saat itu. Ia memiliki
cita-cita yang begitu mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia yakin hasil
tidak akan menghianati usaha, ingin sekali cita-cita yang ia impikan bisa
tercapai.
Perjuangan yang ia tempuh dari awal
hingga sekarang begitu menyedihkan, orang tua yang di awal ragu akan anaknya
yang akan berhasil dengan alasan ekonomi, sempat membuat semangat yang ia
banggakan selama ini runtuh seketika. Pada saat itu juga yang ia merupakan seorang
anak yang berbakti dan penurut kepada orang tua tak banyak berbuat apa-apa. Ia
beranggapan bahwa cita-cita yang ia inginkan selama ini berakhir tanpa
perjuangan.
Tepat tahun 2007, kabar buruk mengejutkan bahwa sang ibu di diagnosa
mengidap penyakit liver, bagai disambar petir di siang bolong yang dimana pada
saat itu sang ayah telah merantau ke negara tetangga akibat ekonomi yang mulai
merosot. Tak ada yang menginginkan hal ini, tapi Tuhan telah menakdirkan, dia
dan kakak laki-lakinya pada saat itu hanya memikirkan bagaimana membuat sang
ibu sembuh dan hidup lebih lama lagi bersama kedua anaknya. Bersyukur ia masih
diberikan kesempatan merawat sang ibu. Tiba saatnya tepat pada tanggal 15 Januari
2008, sang ibunda berpulang, dan ia tak tau apa yang harus ia lakukan, dunia
luruh saat itu, jeritan tangisnya memenuhi seisi dunia ini, ia berfikir bahwa Tuhan
begitu tega kepadanya, mengambil tanpa permisi terhadap apa yang ia sayangi dan
cintai. Ia tak bisa mengikhlaskan begitu saja, menganggap hal ini adalah mimpi
semata. Karena selama tak ada ayah disisi mereka, sang ibu lah yang
menggantikan.
Kehidupan tetap ia jalani sebagai mana
mestinya, ia sadar bahwa hari esok telah menunggu. Ia tidak bisa hanya meratapi
saja tanpa melakukan perubahan, ia sadar ini kebaikan untuknya, ia ingin
membuktikan dan membuat bangga kepada almarhumah sang bunda, bahwa ia bisa
seperti mereka pada umumnya. Ia mulai menata perjalanan hidupnya kembali. Ia
merantau tak tentu arah hanya ingin meraih pendidikan sebagai mana mestinya,
sempat keluar kota banyak pengalaman yang ia dapatkan di sana. Singkat cerita
lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) disalah satu Madrasah Aliyah ternama
yang berada di Kota Pontianak, ia kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan
ke jenjang Perkuliahan, kerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Semoga allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada nya, kepada gadis remaja yang
begitu tegar. TERIMA KASIH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar