“SEJARAH MASJID JAMI’ SAMBAS”
Siapa
yang tidak mengenali Kota Sambas. Kota yang amat dicintai oleh semua yang
pernah mengunjungi kota tersebut, Kota kecil ini secara geografis terletak di
tengah-tengah wilayah Kabupaten Sambas di Provinsi Kalimantan Barat. Orang yang
pertama membuka dan mengembangkan Kota Sambas adalah Sultan Muhammad Tajuddin I
yang pada sekitar tahun 1683 M memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sambas
dari Lubuk Madung ke Muare Ulakkan (persimpangan sungai sambas, sungai teberau
dan sungai subah) yang kemudian berkembang menjadi Kota Sambas sekarang ini.
Sehingga perkembangan kota ini berawal dari pusat Kesultanan
Sambas yang dahulu berada
persis di persimpangan alur Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah.
Sekarang
Kota Sambas merupakan Ibu Kota Kabupaten Sambas yang secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Sambas.
Kecamatan Sambas (lebih biasa) dipanggil oleh penduduk kabupaten sebagai Kota
Sambas, yang juga berslogan "Kota Sambas Terigas". Sambas yang
dikenal sekarang merupakan kota pusat pemerintahan Kesultanan Sambas, yang
berpusat di Istana Alwatzikoebillah, desa Dalam Kaum. Tepat di depan istana berdiri
pula sebuah masjid tua yang merupakan salah satu masjid terbesar di Kota
Sambas, yaitu Masjid Agung Jami' atau Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II.
Berdasarkan
hasil observasi penulis dengan mendatangi secara langsung Masjid Agung Jami’,
memang benar aroma dari ke khas-an kesultahan pada zaman dahulu begitu terasa.
Dengan estetika bangunan yang begitu indah bediri dengan megahnya, setiap
ukiran dan pahatan yang begitu detail membuat para pengunjung terpesona ketika
berada di tempat tersebut. Masjid Agung Jami’
ini merupakan Masjid yang penuh kenangan dan perjuangan dalam proses
pembangunan.
Masjid Agung Jami’ Sultah Muhammad Tsafiuddin II,
salah satu perlambang kemajuan Tamaddun Islam dan Budaya melayu Sambas yang
masih megah tegak berdiri menjadi salah satu khazanah bagi daerah Sambas sampai
hari ini. Didirikan padahari Jum’at tanggal 1 Muharram 1303 H atau sekitar 10 Oktober
1885 M. Pendirinya adalah Sri Paduka Sultan Muahmmad Tsafiuddin II, bertahta di
Negeri Kerajaan Sambas sejak tahun 1866-1925 M.
Akan sejarah pendirian Masjid ini, maka
tidak mungkin melewatkan begitu saja nama besar dan sejarah perihidup mulia
pendirinya, yang hendaknya dapat menjadi Suri Tauladan bagi generasi yang
datang setelahnya. Beliau sebagai bapak pendidik,Muballigh Agung, dan negarawan
dari kerajaan sambas pada masa itu. Beliau telah berjasa membangun Masjid Agung
yang megah ini, buat menggantikan Masjid Jami’ yang ada dibangun pada
pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang masih bersifat sementara, dan baru
agak permanen dibangun pada zaman pemerintahan Sultan Umar Aqamuddin I yang
lebih dikenal dengan sebutan Marhum Adil.
Sultan Muhammad Tsafiuddin II, karena tanggung
jawab nya yang pernah sebagai seorang muslim dan mukmin, sekaligus sebagai
Sulthan Imam dan pemimpin umat dalam kerajaan nya pada masa itu, selain itu
didorong atas kehendak atau titah nazar ibunda beliau yaitu Ratu Sabar, Ibu Agung
permaisuri Sultan Abu Bakar Tadjudin II, maka ibunda beliau menitahkan supaya
rumah pusaka bekas kediaman dan istana Sulthan Umar Agamudin III yakni nendanya
dipihak ibu, itu lalu dirombak dan dipindahkan dari Tnjung Rengas yang terletak
bersebrangan sungai berhadapan dengan Masjid Agung ini untuk dijadikan modal
pertama dalam pembangunan Masjid ini oleh putera yang dicintainya.
Satu
hal penting yang mungkin menjadi perlambang harapan dari niatan atau nazar yang
terkandung dalam hati sanubari ibunda beliau, Ratu Sabar, Allahu Yarhamha,
ialah dari arti simbolik dalam cara pengumpulan sebagian dari dana pembangunan
Masjid ini, yang langsung dikoordinir sendiri oleh Ratu Sabar. Beliau yang
dengan tekun dan bekerja keran berjam – jam hingga berhari – hari tanpa bosan
bosannya dengan bantuan ikhlas dari semua pelayannya dan para abdi dalamnya,
bekerja membuat sejumlah “ Bunga Rampai “, yakni kumpulan dari berbungaan dan
irisan dedauanan yang berbau wangi, diiris iris dengan halusnya, lalu kemudian
diserahkan atau dibagi bagikan kepada dermawan – dermawan yang seolah olah
merupakan suatu isyarat dan doa penaazarannya yakni : semoga kelak dikemudian
hari sepeninggalan beliau, Masjid Agung yang oleh Putera yang amat dicintainya
itu akan menjadi kenangan sejarah, menjadi satu tanda baktinya yang harum
kepada rakyat dan kerajaanya laksana harumnya “ Bunga Rampai “.
Masjid Jami Keraton Sambas ini awalnya
merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan musala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada
tahun 1702-1727 Masehi, kemudian Masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan
Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi Masjid Jami dan diresmikan pada
tanggal 10 Oktober 1885 M. Masjid ini tercatat
sebagai masjid tertua di Kalimantan
Barat. Jumlah tiang tengah bagian
dalam Mesjid Jami' berjumlah delapan batang yang bermakna pendirinya adalah
Sultan ke-8 atau Sultan ke-14 garis Kesultanan Kerajaan Sambas. Semua dari
bangunan ini juga terbuat dari kayu belian.
Pada bagian tingkat 1, masjid ini
memiliki bagian ruang untuk mengaji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam.
Di bagian belakang masjid terdapat sebuah bejana kuno yang dahulu dijadikan
tempat sultan mandi atau bersuci. Bersebelahan dengan perpustakaan yang
ada di dalam Masjid tersebut. Penulis mengambil potret secara langsung ketika
berada di sana serta di dalam masjid tersebut terdapat mimbar.
Dan
pada bagian luar migrab Masjid terdapat tulisan arab yang berbunyi “Innama
Yagmuru Masajidillahu Man Ammana Billa Wal Yaumil Akhir” yang artinya : Hanya
orang – orang yang memakmurkan Masjid Allah adalah orang – orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir”. Masing – masing bagian dari Masjid ini merupakan
hasil pemikiran dari raja dan ratu kesultanan Sambas yang berdiri sekitar 100
tahun yang lalu. Meskipun dengan begitu bangunan peninggalan saat ini masih
menjadi pusat perhatian masyarkat sambas. Dan membentuk panitia pemeliharan
atas Masjid.
Dari
sisi interior, Masjid Jami
Sambas menghadirkan desain yang elegan. Semua ornamen di
dalamnya menggunakan kayu besi, dan diberi warna pernis, sehingga memunculkan
kesan bangunan sedikit kuno. Ada 16 tiang utama yang menyokong masjid ini.
Masjid ini sendiri memiliki bangunan bertingkat. Meski berwarna pernis yang
gelap, masjid ini mempunyai tata pencahayaan yang bagus, 8 jendela di sisi
mimbar dan memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan masjid. Selain
jendela, untuk pencahayaan masjid digunakan lampu gantung yang memberikan kesan
sedikit unik. Rasa nyaman, indah, dan sakral begitu tertanam dalam nuansa
masjid ini. Untuk menuju ke bagian atas masjid, ada 2 buah tangga yang
menghubungkannya. Struktur tangga yang disusun pun terlihat kuno. Selain tangga
biasa, ada satu tangga yang terlihat unik yakni bentuknya berupa beberapa kayu
balok yang dipasang untuk membantu mengaitkan telapak kaki menuju ke atas,
setingkat demi setingkat. Pada bagian tingkat 2, masjid ini memiliki bagian
ruang untuk mengaji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam.
Beberapa
pengunjung selain melihat lihat dan mengamati apa yang ada di dalam Masjid
tersebut juga menyempatkan diri untuk beribadah seperti melakukan sholat sunnah
maupun wajib serta mengaji dan di situ juga kita bisa membaca karena di dalam
Masjid terdapat pepustakaan. Aura zaman masa kesultanan masih sangat terasa dan
bahkan ketika penulis mulai memasuki Masjid, mulai terasa bahwa penulis sedang
berada di tengah – tengah pada masa pemerintahan kesultanan. Sangat – sangat
terasa hawa pda saat itu.
Penulis sangat berterima kasih kepada para
pengurus yang sudah mengizinkan penulis untuk turun langsung mengamati apa saja
yang terdapat di dalam Masjid bahkan penulis juga sempat berdialog singkat,
beliau mengatakan bahwa Masjid ini dahulunya merupakan sebuah rumah, yaitu
rumah Sultan Aqumuddin yang diibahkan menjadi mushola. Kegiatan yang biasa
dilakukan ketika di Masjid Jami’ panitia mengadakan kajian – kajian tentang
agama. Siang merupakan waktu pengunjung berdatangan untuk melihat suasana di
sekitar Masjid Jami’.
Penulis juga menemukan bedug yang sudah tak terawat lagi, awalnya bedug
itu dugunakan ketika hendak masuk waktu sholat, seiring berjalannya zaman dan
teknologi orang – orang memasang pengeras suara yang lebih efesien. Di sekitar
Masjid Jami’ ada juga keraton, dimana di dalamnya terdapat beberapa peninggalan
bersejarah seperti: baju – baju telok belanga untuk laki – laki dan baju kurung
untuk perempuan. Adapun terdapat halaman yang sangat luar disekitaran antara
Masjid Jami’ dan keraton.
Hampir setiap hari ada saja pengunjung yang datang untuk melihat –
lihat, kelihatannya tidak pernah sepi, masyarakat disekitaran keraton biasanya
mendatangi keraton dan Masjid Jami’ pada waktu sore hari untuk melepas penat
setelah seharian beraktivitas. Mengobrol dan bersenang ria sungguh menyenangkan
bagi penulis. Dal hal ini bahwasannya masyarakat Sambas masih memiliki jiwa
yang patriotisme artinya mereka memahami dan akan mengetahui pejuang – pejuang
mereka pada zaman dahulu.
Adanya peninggalan – peninggalan di daerah mana saja sepatutnya kita
amati dan kita kenalkan ke dunia luar bahwa daerah kita memiliki pahlawan –
pahlawan yang tangguh serta peninggalannya yang tak kalah takjubnya.
Mengajarkan anak arti menghormati dan mengenal tentang benda – benda bersejarah
wajib dilakukan dan diterapkan oleh orang tua. Agar anak tidak semena – mena
dan menjadi lugu akan ilmu sejarah.
Ketika kita menjadi seorang pendidik, wajib hukumnya jika memperkenalkan
kebudayaan daerah kita sendiri kepada para siswa. Jangan biarkan anak ataupun
siswa mencari informasi sendiri dengan cara sendiri tetapi dampingi lah, jika
perlu lakukan studi banding ke museum – museum yang ada di Kalimantan Barat.
Guru dan orang tua wajib memahami akan hal ini agar anak mengenali dan
mengetahui betapa pentingnya mempelajari sejarah.
Penulis merasa bangga akan hal yany penulis dapatkan dimana pada hari
penulis mengamati langsung serta berkomunikasi langsung dengan keturunan para
kesultanan. Banyak juga yang belum diketahui penulis tentang sejarah singkat
berdirinya Masjid Jami’. Dilihat dari bangunannya penulis penasaran seberapa
pintar orang – orang pada zaman dahulu, padahal mereka sama sekali tidak
menempuh pendidikan formal.
Kesuksesan dalam pembangunan hal ynag membuat penulis berfikir keras
akan kepintaran orang terdahulu, Allah punya jalan lain untuk mrnunjukkan
kekuasaan –NYA. Hanya kata bangga dan bersyukur yang dapat penulis sampaikan
atas berkat Rahmat Tuhan Ynag Maha Esa kota Sambas dapat terbentuk sampai saat
ini hingga dikenal oleh msyaratkat luar. Potensi – potensi yang dimiliki masyarakat
Sambas tidak kalah saing dengan daerah – daerah lainnya. Yang mana bangunan
Masjid Jami’ meruapakan bangunan Masjid tertua di Kalimantan Barat.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwasannya Sambas
merupakan kota yang berada di provinsi Kalimantan Barat, kota yang menjadi
terkenal karena darah melayu yang begitu kental serta potensi – potensi yang
dimiliki masyarakat Sambas. Kota Sambas sudah menjadi perhatian untuk saat ini,
dari segi kebudayaan bahwasannya kain tenun sambas menjadi objek pertama yang
diamati, dimana telah diakui oleh UNICEF. Bahwa kain tenun Sambas merupakan
salah satu warisan dunia. Sekian dan Terima Kasih.
Oleh : “Elsa Safitri”
BAHASA INDONESIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS
TAHUN AKADEMIK 2017/2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar