Sabtu, 08 Desember 2018

SEJARAH MESJID JAMI SAMBAS(Elsa)

“SEJARAH MASJID JAMI’ SAMBAS”


       Siapa yang tidak mengenali Kota Sambas. Kota yang amat dicintai oleh semua yang pernah mengunjungi kota tersebut, Kota kecil ini secara geografis terletak di tengah-tengah wilayah Kabupaten Sambas di Provinsi Kalimantan Barat. Orang yang pertama membuka dan mengembangkan Kota Sambas adalah Sultan Muhammad Tajuddin I yang pada sekitar tahun 1683 M memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sambas dari Lubuk Madung ke Muare Ulakkan (persimpangan sungai sambas, sungai teberau dan sungai subah) yang kemudian berkembang menjadi Kota Sambas sekarang ini. Sehingga perkembangan kota ini berawal dari pusat Kesultanan Sambas yang dahulu berada persis di persimpangan alur Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah.
       Sekarang Kota Sambas merupakan Ibu Kota Kabupaten Sambas yang secara administratif  berada dalam wilayah Kecamatan Sambas. Kecamatan Sambas (lebih biasa) dipanggil oleh penduduk kabupaten sebagai Kota Sambas, yang juga berslogan "Kota Sambas Terigas". Sambas yang dikenal sekarang merupakan kota pusat pemerintahan Kesultanan Sambas, yang berpusat di Istana Alwatzikoebillah, desa Dalam Kaum. Tepat di depan istana berdiri pula sebuah masjid tua yang merupakan salah satu masjid terbesar di Kota Sambas, yaitu Masjid Agung Jami' atau Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II.
       Berdasarkan hasil observasi penulis dengan mendatangi secara langsung Masjid Agung Jami’, memang benar aroma dari ke khas-an kesultahan pada zaman dahulu begitu terasa. Dengan estetika bangunan yang begitu indah bediri dengan megahnya, setiap ukiran dan pahatan yang begitu detail membuat para pengunjung terpesona ketika berada di tempat tersebut. Masjid Agung Jami’  ini merupakan Masjid yang penuh kenangan dan perjuangan dalam proses pembangunan.
        Masjid Agung Jami’ Sultah Muhammad Tsafiuddin II, salah satu perlambang kemajuan Tamaddun Islam dan Budaya melayu Sambas yang masih megah tegak berdiri menjadi salah satu khazanah bagi daerah Sambas sampai hari ini. Didirikan padahari Jum’at tanggal 1 Muharram 1303 H atau sekitar 10 Oktober 1885 M. Pendirinya adalah Sri Paduka Sultan Muahmmad Tsafiuddin II, bertahta di Negeri Kerajaan Sambas sejak tahun 1866-1925 M.
       Akan sejarah pendirian Masjid ini, maka tidak mungkin melewatkan begitu saja nama besar dan sejarah perihidup mulia pendirinya, yang hendaknya dapat menjadi Suri Tauladan bagi generasi yang datang setelahnya. Beliau sebagai bapak pendidik,Muballigh Agung, dan negarawan dari kerajaan sambas pada masa itu. Beliau telah berjasa membangun Masjid Agung yang megah ini, buat menggantikan Masjid Jami’ yang ada dibangun pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang masih bersifat sementara, dan baru agak permanen dibangun pada zaman pemerintahan Sultan Umar Aqamuddin I yang lebih dikenal dengan sebutan Marhum Adil.
        Sultan Muhammad Tsafiuddin II, karena tanggung jawab nya yang pernah sebagai seorang muslim dan mukmin, sekaligus sebagai Sulthan Imam dan pemimpin umat dalam kerajaan nya pada masa itu, selain itu didorong atas kehendak atau titah nazar ibunda beliau yaitu Ratu Sabar, Ibu Agung permaisuri Sultan Abu Bakar Tadjudin II, maka ibunda beliau menitahkan supaya rumah pusaka bekas kediaman dan istana Sulthan Umar Agamudin III yakni nendanya dipihak ibu, itu lalu dirombak dan dipindahkan dari Tnjung Rengas yang terletak bersebrangan sungai berhadapan dengan Masjid Agung ini untuk dijadikan modal pertama dalam pembangunan Masjid ini oleh putera yang dicintainya.
        Satu hal penting yang mungkin menjadi perlambang harapan dari niatan atau nazar yang terkandung dalam hati sanubari ibunda beliau, Ratu Sabar, Allahu Yarhamha, ialah dari arti simbolik dalam cara pengumpulan sebagian dari dana pembangunan Masjid ini, yang langsung dikoordinir sendiri oleh Ratu Sabar. Beliau yang dengan tekun dan bekerja keran berjam – jam hingga berhari – hari tanpa bosan bosannya dengan bantuan ikhlas dari semua pelayannya dan para abdi dalamnya, bekerja membuat sejumlah “ Bunga Rampai “, yakni kumpulan dari berbungaan dan irisan dedauanan yang berbau wangi, diiris iris dengan halusnya, lalu kemudian diserahkan atau dibagi bagikan kepada dermawan – dermawan yang seolah olah merupakan suatu isyarat dan doa penaazarannya yakni : semoga kelak dikemudian hari sepeninggalan beliau, Masjid Agung yang oleh Putera yang amat dicintainya itu akan menjadi kenangan sejarah, menjadi satu tanda baktinya yang harum kepada rakyat dan kerajaanya laksana harumnya “ Bunga Rampai “.
       Masjid Jami Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan musala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi, kemudian Masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi Masjid Jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 M. Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat. Jumlah tiang tengah bagian dalam Mesjid Jami' berjumlah delapan batang yang bermakna pendirinya adalah Sultan ke-8 atau Sultan ke-14 garis Kesultanan Kerajaan Sambas. Semua dari bangunan ini juga terbuat dari kayu belian.
       Pada bagian tingkat 1, masjid ini memiliki bagian ruang untuk mengaji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam. Di bagian belakang masjid terdapat sebuah bejana kuno yang dahulu dijadikan tempat sultan mandi atau bersuci. Bersebelahan dengan perpustakaan yang ada di dalam Masjid tersebut. Penulis mengambil potret secara langsung ketika berada di sana serta di dalam masjid tersebut terdapat mimbar.
        Dan pada bagian luar migrab Masjid terdapat tulisan arab yang berbunyi “Innama Yagmuru Masajidillahu Man Ammana Billa Wal Yaumil Akhir” yang artinya : Hanya orang – orang yang memakmurkan Masjid Allah adalah orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. Masing – masing bagian dari Masjid ini merupakan hasil pemikiran dari raja dan ratu kesultanan Sambas yang berdiri sekitar 100 tahun yang lalu. Meskipun dengan begitu bangunan peninggalan saat ini masih menjadi pusat perhatian masyarkat sambas. Dan membentuk panitia pemeliharan atas Masjid.
       Dari sisi interior, Masjid Jami Sambas menghadirkan desain yang elegan. Semua ornamen di dalamnya menggunakan kayu besi, dan diberi warna pernis, sehingga memunculkan kesan bangunan sedikit kuno. Ada 16 tiang utama yang menyokong masjid ini. Masjid ini sendiri memiliki bangunan bertingkat. Meski berwarna pernis yang gelap, masjid ini mempunyai tata pencahayaan yang bagus, 8 jendela di sisi mimbar dan memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan masjid. Selain jendela, untuk pencahayaan masjid digunakan lampu gantung yang memberikan kesan sedikit unik. Rasa nyaman, indah, dan sakral begitu tertanam dalam nuansa masjid ini. Untuk menuju ke bagian atas masjid, ada 2 buah tangga yang menghubungkannya. Struktur tangga yang disusun pun terlihat kuno. Selain tangga biasa, ada satu tangga yang terlihat unik yakni bentuknya berupa beberapa kayu balok yang dipasang untuk membantu mengaitkan telapak kaki menuju ke atas, setingkat demi setingkat. Pada bagian tingkat 2, masjid ini memiliki bagian ruang untuk mengaji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam.
        Beberapa pengunjung selain melihat lihat dan mengamati apa yang ada di dalam Masjid tersebut juga menyempatkan diri untuk beribadah seperti melakukan sholat sunnah maupun wajib serta mengaji dan di situ juga kita bisa membaca karena di dalam Masjid terdapat pepustakaan. Aura zaman masa kesultanan masih sangat terasa dan bahkan ketika penulis mulai memasuki Masjid, mulai terasa bahwa penulis sedang berada di tengah – tengah pada masa pemerintahan kesultanan. Sangat – sangat terasa hawa pda saat itu.
         Penulis sangat berterima kasih kepada para pengurus yang sudah mengizinkan penulis untuk turun langsung mengamati apa saja yang terdapat di dalam Masjid bahkan penulis juga sempat berdialog singkat, beliau mengatakan bahwa Masjid ini dahulunya merupakan sebuah rumah, yaitu rumah Sultan Aqumuddin yang diibahkan menjadi mushola. Kegiatan yang biasa dilakukan ketika di Masjid Jami’ panitia mengadakan kajian – kajian tentang agama. Siang merupakan waktu pengunjung berdatangan untuk melihat suasana di sekitar Masjid Jami’.
         Penulis juga menemukan bedug yang sudah tak terawat lagi, awalnya bedug itu dugunakan ketika hendak masuk waktu sholat, seiring berjalannya zaman dan teknologi orang – orang memasang pengeras suara yang lebih efesien. Di sekitar Masjid Jami’ ada juga keraton, dimana di dalamnya terdapat beberapa peninggalan bersejarah seperti: baju – baju telok belanga untuk laki – laki dan baju kurung untuk perempuan. Adapun terdapat halaman yang sangat luar disekitaran antara Masjid Jami’ dan keraton.
         Hampir setiap hari ada saja pengunjung yang datang untuk melihat – lihat, kelihatannya tidak pernah sepi, masyarakat disekitaran keraton biasanya mendatangi keraton dan Masjid Jami’ pada waktu sore hari untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas. Mengobrol dan bersenang ria sungguh menyenangkan bagi penulis. Dal hal ini bahwasannya masyarakat Sambas masih memiliki jiwa yang patriotisme artinya mereka memahami dan akan mengetahui pejuang – pejuang mereka pada zaman dahulu.
         Adanya peninggalan – peninggalan di daerah mana saja sepatutnya kita amati dan kita kenalkan ke dunia luar bahwa daerah kita memiliki pahlawan – pahlawan yang tangguh serta peninggalannya yang tak kalah takjubnya. Mengajarkan anak arti menghormati dan mengenal tentang benda – benda bersejarah wajib dilakukan dan diterapkan oleh orang tua. Agar anak tidak semena – mena dan menjadi lugu akan ilmu sejarah.
         Ketika kita menjadi seorang pendidik, wajib hukumnya jika memperkenalkan kebudayaan daerah kita sendiri kepada para siswa. Jangan biarkan anak ataupun siswa mencari informasi sendiri dengan cara sendiri tetapi dampingi lah, jika perlu lakukan studi banding ke museum – museum yang ada di Kalimantan Barat. Guru dan orang tua wajib memahami akan hal ini agar anak mengenali dan mengetahui betapa pentingnya mempelajari sejarah.
         Penulis merasa bangga akan hal yany penulis dapatkan dimana pada hari penulis mengamati langsung serta berkomunikasi langsung dengan keturunan para kesultanan. Banyak juga yang belum diketahui penulis tentang sejarah singkat berdirinya Masjid Jami’. Dilihat dari bangunannya penulis penasaran seberapa pintar orang – orang pada zaman dahulu, padahal mereka sama sekali tidak menempuh pendidikan formal.
         Kesuksesan dalam pembangunan hal ynag membuat penulis berfikir keras akan kepintaran orang terdahulu, Allah punya jalan lain untuk mrnunjukkan kekuasaan –NYA. Hanya kata bangga dan bersyukur yang dapat penulis sampaikan atas berkat Rahmat Tuhan Ynag Maha Esa kota Sambas dapat terbentuk sampai saat ini hingga dikenal oleh msyaratkat luar. Potensi – potensi yang dimiliki masyarakat Sambas tidak kalah saing dengan daerah – daerah lainnya. Yang mana bangunan Masjid Jami’ meruapakan bangunan Masjid tertua di Kalimantan Barat.
         Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwasannya Sambas merupakan kota yang berada di provinsi Kalimantan Barat, kota yang menjadi terkenal karena darah melayu yang begitu kental serta potensi – potensi yang dimiliki masyarakat Sambas. Kota Sambas sudah menjadi perhatian untuk saat ini, dari segi kebudayaan bahwasannya kain tenun sambas menjadi objek pertama yang diamati, dimana telah diakui oleh UNICEF. Bahwa kain tenun Sambas merupakan salah satu warisan dunia. Sekian dan Terima Kasih.

        


Oleh : “Elsa Safitri”
BAHASA INDONESIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM
SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS
TAHUN AKADEMIK 2017/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar