Jumat, 28 Desember 2018

urgensi


Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern
(Sebuah Telaah Sosiolinguistik)



Aktivitas bersastra dalam bahasa ibu memiliki peran strategis dalam pemertahanan, pengembangan, dan pertukaran budaya antargenerasi atau antarkelompok. Effendy (2006:6) menyebutkan bahwa aktivitas bersastra  merupakan satu fenomena sosial kemasyarakatan. Aktivitas bersastra juga merupakan bagian dari rangkaian upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pengobatan, dan penanaman padi. Beberapa aktivitas bersastra  juga tergambar dalam lagu-lagu daerah. Album Terigas, sebagai sebuah bukti yang merupakan kumpulan lagu daerah berbahasa Melayu yang sanggup merepresentasikan aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan aransemen yang tepat, lagu-lagu daerah dalam album Terigas tidak sekadar dinyanyikan dalam upacara adat, tapi juga dalam kegiatan sehari-hari. Tulisan ini mengidentifikasi nilai-nilai sosial yang terkandung dalam lagu daerah dan identifikasi makna pemertahanan bahasa yang dimilikinya. Tentu saja penulis merunut pokok permasalahan yang muncul. Salah satu sebabnya, walaupun dengan catatan tidak dengan mendiskreditkan fenomena yang ada, globalisasi cukup bertanggung jawab.
Isu globalisasi yang merupakan ciri abad 21 semakin intensif. Segala hal menjadi tanpa batas, mulai dari ekonomi, politik, sosial, hingga kebudayaan. Fenomena globalisasi adalah kabar baik. Tetapi Batas-batas antarnegara diruntuhkan dengan sengaja, sehingga berdampak, terjadinya pertukaran dan transfer kebudayaan. Dengan demikian akan terjadi perubahan, walau tidak signifikan dalam waktu singkat, pada komponen-komponennya. Satu di antaranya yang ikut terpengaruh adalah komponen bahasa.
Interaksi antarmasyarakat pengguna bahasa adalah yang lazim. Sebelum globalisasi mencuat pada abad 21, interaksi ini lah yang mengakibatkan terjadinya perubahan bahasa-bahasa di nusantara. Perubahan yang dimaksud dikategorikan ke dalam dua hal, pertama adalah perubahan ke arah positif dan bersifat membangun. Kedua adalah dampak negatif yang bersifat merusak bahasa dan penuturnya. Bertambahnya kosakata, semakin mudahnya menamai sesuatu, hingga sebagai alat transfer pengetahuan adalah perubahan positif yang diakibatkan oleh interaksi antarmasyarakat pengguna bahasa yang berbeda. Terjadinya seleksi bahasa, penghilangan, hingga munculnya anggapan bahwa bahasa ibu bernilai lebih rendah daripada bahasa lain adalah beberapa perubahan negatif.
Sebagai alat transfer kebudayaan dan sebagai komponen dari kebudayaan, bahasa, terutama bahasa ibu perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini terutama menyangkut perubahan-perubahan negatif akibat interaksi yang telah dipaparkan. Diawali dengan kemampuan masyarakat menggunakan lebih dari satu bahasa dan berujung pada seleksi bahasa, kemungkinan tersingkirnya bahasa lokal dari penggunaan oleh penuturnya akan semakin besar. Ketika masyarakat sudah mengenal bahasa lain, selain dari bahasa ibunya, dan berada dalam lingkungan yang jamak serta didukung oleh kebijakan . Kosakata asli akan digantikan oleh kosakata lainnya yang bisa dipahami oleh penutur bahasa lain. Pada tahap ini, penggantian (seleksi, pemilihan) masih berada dalam tahap yang wajar. Namun akan mendatangkan masalah jika fenomena tersebut berlanjut ke dalam komunitas penutur asli. Beberapa contohnya yang bisa ditemukan dalam bahasa Melayu Sambas adalah sebagai berikut: kata suddok digantikan oleh sendok, kata capal digantikan oleh sandal, kata selawar digantikan oleh celana, kata appan digantikan oleh panci.
Beberapa kata di atas adalah sebagai contoh terjadinya seleksi bahasa. Hal itu jikaterjadi terus menerus akan membahayakan bahasa ibu. dapat dipahami bahwa ranah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik akan mengalami perubahan secara perlahan.
Perlu dilakukan suatu upaya agar bahasa ibu tetap digunakan di masyarakat: beserta sistemnya dalam bentuk yang asli. Upaya itu lazim dinamai dengan pemertahanan bahasa.  hal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.  tetap terpelihara.
Terungkapnya  nilai-nilai sosial dalam lagu daerah menunjukkan bahwa ia memiliki sesuatu yang patut dilestarikan sebagai pelestari bahasa daerah.Lagu daerah adalah satu komponen kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Selain memiliki sifat estetis, ia juga mengandung nilai-nilai sosial yang selalu dijunjung dan dijadikan cita-cita bersama sekelompok masyarakat. Pelestarian lagu daerah akan berdampak positif terhadap upaya pemertahanan bahasa. 




Nama      : listari
 Prodi      : pgmi non reg
Semester: 3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar