SEJARAH MESJID JAMI
Masjid Jami Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah
sultan yang kemudian dijadikan musala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah
Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi,kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad
Saifuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 M. Masjid
ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat.
Arsitektur
masjid ini bergaya khas melayu, dengan mayoritas bahan bangunan menggunakan
kayu ulin atau kayu besi. Masjid ini memiliki 2 menara yang berada disamping
kiri dan kanan mimbar masjid. Dari luar masjid, warna kuning terlihat begitu
mendominasi bangunan ini. Warna kuning seperti menjadi identitas dari warna
kesultanan.
Struktur kokoh bangunan masjid ini terletak di samping Muara
Ulakkan, muara yang mempertemukan Sungai Sambas Besar, Sungai Sambas Kecil dan
Sungai Teberau. Hal ini menjadi bukti transportasi utama ketika itu masih
menggunakan kapal.
Dari sisi interior,
Masjid Jami Sambas menghadirkan desain yang elegan. Semua ornamen di dalamnya
menggunakan kayu besi, dan diberi warna pernis, sehingga memunculkan kesan
bangunan sedikit kuno. Ada 16 tiang utama yang menyokong masjid ini. Masjid ini
sendiri memiliki bangunan bertingkat.
Meski berwarna pernis yang gelap, masjid
ini mempunyai tata pencahayaan yang bagus, dengan dibantu 8 jendela di sisi
mimbar dan memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan masjid. Selain
jendela, untuk pencahayaan masjid digunakan lampu gantung yang memberikan kesan
sedikit unik. Rasa nyaman, indah, dan sakral begitu tertanam dalam nuansa
masjid ini.
Untuk menuju ke bagian
atas masjid, ada 2 buah tangga yang menghubungkannya. Struktur tangga yang
disusun pun terlihat kuno. Selain tangga biasa, ada satu tangga yang terlihat
unik yakni bentuknya berupa beberapa kayu balok yang dipasang untuk membantu
mengaitkan telapak kaki menuju ke atas, setingkat demi setingkat. Pada bagian
tingkat 2, masjid ini memiliki bagian ruang untuk mengaji dan mengajarkan
ajaran-ajaran agama Islam. Di bagian belakang masjid terdapat sebuah bejana
kuno yang dahulu dijadikan tempat sultan mandi atau bersuci.
Setiap
pengunjung yang telah berkunjung ke Kesultanan Sambas, biasanya menyempatkan
shalat di masjid ini. Tidak hanya itu, warga sekitar juga banyak yang
menjalankan shalat wajib maupun sunah di masjid ini. Kesan keakraban dan
kedekatan begitu terlihat dari kehidupan sekitar Kesultanan Sambas di mana
keluarga kesultanan dengan masyarakat begitu akrab tanpa adanya sekat-sekat
hierarki. Konon dari masjid Kesultanan Sambas inilah ajaran agama Islam
menyebar luas hingga ke seluruh wilayah Sambas.
Nama :
NAIM
Prodi : PGMI
NIM : 1022017048

Tidak ada komentar:
Posting Komentar