“Urgensi Bahasa
Ibu di Era Modern”
Bahasa Ibu merupakan bahasa awal dari
setiap kehidupan. Bahasa Ibu, bahasa yang digunakan ketika kita berada di
daerah tempat tinggal kita sendiri. Bahasa Ibu adalah bahasa yang penggunaan
bahasa nya setiap elemen suku memiliki tingkat keragaman bahasa yang indah dan
unik.
Hidup di zaman modern ini, seperti nya
manusia akan terbiasa menggunakan alat-alat yang diciptakan oleh tangan manusia
itu sendiri. Globalisasi terjadi, banyak pengaruh dari luar yang sudah meresap
masuk ke Negara Indonesia. Yang mana apabila warga negara Indonesia tidak
terlalu memperhatikan dan memperdulikan ini semua, maka akan terjadi kepunahan.
Baik dari segi kebudayaan, bahkan sudah menjalar dari kebahasaan.
Berbicara tentang kebahasaan, penulis akan
membahas serta memaparkan bagaimana Urgensi nya Bahasa Ibu di Era Modern ini.
Bahasa Ibu yang memang menjadi bahasa awal yang kita gunakan dan kenal sebelum
bahasa-bahasa di dunia ini, memiliki nilai kebudayaan serta junjungan tinggi
masyarakat setempat. Dahulu bahasa ini sangat-sangat menjadi panutan, karena
setiap bahasa memiliki nilai-nilai kehidupan.
Penulis mengambil latar tempat yaitu,
tempat kelahiran penulis sendiri, Kota Sambas.
Bahasa Ibu
yang digunakan oleh masyarakat Sambas ialah, Bahasa Melayu yang di mana hampir
sama dengan masyarakat Riau dan warga negara Malaisya. Penggunaan Bahasa Ibu di
Sambas pada Era Modern ini, masih cukup stabil, orang-orang masih sering
menggunakan Bahasa Ibu atau Bahasa Melayu. Dan yang lebih hebat nya lagi
masyarakat Tionghoa dalam berdagang ketika menjumpai pembeli melayu, ia akan
menggunakan Bahasa Melayu. Mereka sangat-sangat menghargai antara suku satu dan
yang lain.
Banyak nya para pemuda yang ketika
beranjak dewasa atau ketika sedang melanjutkan pendidikan, mereka lebih memilih
untuk meninggalkan kota dan merantau pergi ke kota-kota besar. Nah, menjelang
beberapa tahun mereka tinggal di sana, masa ketika ia akan kembali ke kota
kelahiran, perlahan mereka akan membawa bahasa ketika mereka berada atau
tinggal lama di kota ratauan dan perlahan Bahasa Ibu akan menjadi lupa, dan
sebaliknya ketika mereka tinggal menetap di kota asal, bahasa rantauan akan
hilang atau dilupakan.
Banyak sekali Bahasa Ibu di kota Sambas ini para sastrawan
menuangkan isi pikiran mereka dalam sebuah bentuk nyanyian atau sebuah lagu.
Contoh, Kapal Belon, Bubur Pedas serta Rase Panning Palak ku. Di dalam lagu
yang mereka ciptakan tersebut terdapat isi kandungan yang memiliki nilai-nilai
kehidupan yang positif. Tidak hanya itu dalam acara perkawinan dan upacara
kematian, masyarakat Sambas akan menjalankan beberapa tradisi dari leluhur
mereka yang mana tetap pada sifat Religius yang ditampakkan. Untuk melestarikan
Bahasa Melayu pada masyarakat Sambas, mereka tidak akan terpengaruh dengan bahasa
yang datang dan akan tetap melestarikan sehingga tidak ditelan zaman.
Kelebihan dari Uraian tersebut ialah,
membuka wawasan baru tentang Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern serta penanaman
nilai-nilai sosial dan penahanan Bahasa Ibu. Kekurangan, penulis kurang
memahami diksi yang digunakan pengarang.
Oleh:
Elsa Safitri
1022017041
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
SULTAN MUHAMMAS SYAFIUDDIN SAMBAS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar