Sabtu, 29 Desember 2018

Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern,sambas


Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern

    Aktivitas bersastra dalam bahasa ibu memiliki peran strategis dalam pemertahanan, pengembangan, dan pertukaran budaya antargenerasi atau antarkelompok Bahasa Ibu merupakan bahasa awal dari setiap kehidupan. Bahasa Ibu, bahasa yang digunakan ketika kita berada di daerah tempat tinggal kita sendiri. Bahasa Ibu adalah bahasa yang penggunaan bahasa nya setiap elemen suku memiliki tingkat keragaman bahasa yang indah dan unik.

    Isu globalisasi yang merupakan ciri abad 21 semakin intensif Hidup di zaman modern ini, seperti nya manusia akan terbiasa menggunakan alat-alat yang diciptakan oleh tangan manusia itu sendiri. Globalisasi terjadi, banyak pengaruh dari luar yang sudah meresap masuk ke Negara Indonesia. Yang mana apabila warga negara Indonesia tidak terlalu memperhatikan dan memperdulikan ini semua, maka akan terjadi kepunahan. Baik dari segi kebudayaan, bahkan sudah menjalar dari kebahasaan.

     Berbicara tentang kebahasaan, penulis akan membahas serta memaparkan bagaimana Urgensi nya Bahasa Ibu di Era Modern ini. Bahasa Ibu yang memang menjadi bahasa awal yang kita gunakan dan kenal sebelum bahasa-bahasa di dunia ini, memiliki nilai kebudayaan serta junjungan tinggi masyarakat setempat. Dahulu bahasa ini sangat-sangat menjadi panutan, karena setiap bahasa memiliki nilai-nilai kehidupan.

     Penulis mengambil latar tempat yaitu, tempat kelahiran penulis sendiri, Kota Sambas.
Bahasa Ibu yang digunakan oleh masyarakat Sambas ialah, Bahasa Melayu yang di mana hampir sama dengan masyarakat Riau dan warga negara Malaisya. Penggunaan Bahasa Ibu di Sambas pada Era Modern ini, masih cukup stabil, orang-orang masih sering menggunakan Bahasa Ibu atau Bahasa Melayu. Dan yang lebih hebat nya lagi masyarakat Tionghoa dalam berdagang ketika menjumpai pembeli melayu, ia akan menggunakan Bahasa Melayu. Mereka sangat-sangat menghargai antara suku satu dan yang lain.
    
      Banyak nya para pemuda yang ketika beranjak dewasa atau ketika sedang melanjutkan pendidikan, mereka lebih memilih untuk meninggalkan kota dan merantau pergi ke kota-kota besar. Nah, menjelang beberapa tahun mereka tinggal di sana, masa ketika ia akan kembali ke kota kelahiran, perlahan mereka akan membawa bahasa ketika mereka berada atau tinggal lama di kota ratauan dan perlahan Bahasa Ibu akan menjadi lupa, dan sebaliknya ketika mereka tinggal menetap di kota asal, bahasa rantauan akan hilang atau dilupakan.

      Banyak sekali  Bahasa Ibu di kota Sambas ini para sastrawan menuangkan isi pikiran mereka dalam sebuah bentuk nyanyian atau sebuah lagu. Contoh, Kapal Belon, Bubur Pedas serta Rase Panning Palak ku. Di dalam lagu yang mereka ciptakan tersebut terdapat isi kandungan yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang positif. Tidak hanya itu dalam acara perkawinan dan upacara kematian, masyarakat Sambas akan menjalankan beberapa tradisi dari leluhur mereka yang mana tetap pada sifat Religius yang ditampakkan. Untuk melestarikan Bahasa Melayu pada masyarakat Sambas, mereka tidak akan terpengaruh dengan bahasa yang datang dan akan tetap melestarikan sehingga tidak ditelan zaman.

nilai-nilai sosial dalam lagu daerah menunjukkan bahwa ianya memiliki sesuatu yang patut dilestarikan. Pelestarian ini pun berkorelasi positif terhadap pemertahanan bahasa Melayu. Selain nilai sosial, pada bagian ini akan diuraikan pelbagai makna pemertahanan bahasa melalui lagu daerah. Pertama, bahasa sebagai identitas kesukuan. Identitas kesukuan kerap kali disalahartikan dengan primordialisme, suatu pandangan yang menganggap rendah kelompok lain.

     Kelebihan dari Uraian tersebut ialah, membuka wawasan baru tentang Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern serta penanaman nilai-nilai sosial dan penahanan Bahasa Ibu. Kekurangan, penulis kurang memahami diksi yang digunakan pengarang.


Nama                : NAIM
Prodi                  : PGMI
Fakultas             : Tarbiyah & Ilmu Keguruan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar