“Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern”
Aktivitas bersastra dalam bahasa ibu
memiliki peran strategis dalam pemertahanan, pengembangan, dan pertukaran
budaya antargenerasi atau antarkelompok Bahasa Ibu merupakan bahasa awal
dari setiap kehidupan. Bahasa Ibu, bahasa yang digunakan ketika kita berada di
daerah tempat tinggal kita sendiri. Bahasa Ibu adalah bahasa yang penggunaan
bahasa nya setiap elemen suku memiliki tingkat keragaman bahasa yang indah dan
unik.
Isu
globalisasi yang merupakan ciri abad 21 semakin intensif Hidup di zaman modern
ini, seperti nya manusia akan terbiasa menggunakan alat-alat yang diciptakan
oleh tangan manusia itu sendiri. Globalisasi terjadi, banyak pengaruh dari luar
yang sudah meresap masuk ke Negara Indonesia. Yang mana apabila warga negara
Indonesia tidak terlalu memperhatikan dan memperdulikan ini semua, maka akan
terjadi kepunahan. Baik dari segi kebudayaan, bahkan sudah menjalar dari
kebahasaan.
Berbicara
tentang kebahasaan, penulis akan membahas serta memaparkan bagaimana Urgensi
nya Bahasa Ibu di Era Modern ini. Bahasa Ibu yang memang menjadi bahasa awal
yang kita gunakan dan kenal sebelum bahasa-bahasa di dunia ini, memiliki nilai
kebudayaan serta junjungan tinggi masyarakat setempat. Dahulu bahasa ini sangat-sangat
menjadi panutan, karena setiap bahasa memiliki nilai-nilai kehidupan.
Penulis
mengambil latar tempat yaitu, tempat kelahiran penulis sendiri, Kota Sambas.
Bahasa Ibu yang digunakan oleh masyarakat Sambas
ialah, Bahasa Melayu yang di mana hampir sama dengan masyarakat Riau dan warga
negara Malaisya. Penggunaan Bahasa Ibu di Sambas pada Era Modern ini, masih
cukup stabil, orang-orang masih sering menggunakan Bahasa Ibu atau Bahasa
Melayu. Dan yang lebih hebat nya lagi masyarakat Tionghoa dalam berdagang
ketika menjumpai pembeli melayu, ia akan menggunakan Bahasa Melayu. Mereka
sangat-sangat menghargai antara suku satu dan yang lain.
Banyak
nya para pemuda yang ketika beranjak dewasa atau ketika sedang melanjutkan
pendidikan, mereka lebih memilih untuk meninggalkan kota dan merantau pergi ke
kota-kota besar. Nah, menjelang beberapa tahun mereka tinggal di sana, masa
ketika ia akan kembali ke kota kelahiran, perlahan mereka akan membawa bahasa
ketika mereka berada atau tinggal lama di kota ratauan dan perlahan Bahasa Ibu
akan menjadi lupa, dan sebaliknya ketika mereka tinggal menetap di kota asal,
bahasa rantauan akan hilang atau dilupakan.
Banyak
sekali Bahasa Ibu di kota Sambas ini
para sastrawan menuangkan isi pikiran mereka dalam sebuah bentuk nyanyian atau
sebuah lagu. Contoh, Kapal Belon, Bubur Pedas serta Rase Panning Palak ku. Di
dalam lagu yang mereka ciptakan tersebut terdapat isi kandungan yang memiliki
nilai-nilai kehidupan yang positif. Tidak hanya itu dalam acara perkawinan dan
upacara kematian, masyarakat Sambas akan menjalankan beberapa tradisi dari
leluhur mereka yang mana tetap pada sifat Religius yang ditampakkan. Untuk
melestarikan Bahasa Melayu pada masyarakat Sambas, mereka tidak akan
terpengaruh dengan bahasa yang datang dan akan tetap melestarikan sehingga
tidak ditelan zaman.
nilai-nilai sosial dalam lagu
daerah menunjukkan bahwa ianya memiliki sesuatu yang patut dilestarikan.
Pelestarian ini pun berkorelasi positif terhadap pemertahanan bahasa Melayu.
Selain nilai sosial, pada bagian ini akan diuraikan pelbagai makna pemertahanan
bahasa melalui lagu daerah. Pertama, bahasa sebagai
identitas kesukuan. Identitas kesukuan kerap kali disalahartikan dengan
primordialisme, suatu pandangan yang menganggap rendah kelompok lain.
Kelebihan
dari Uraian tersebut ialah, membuka wawasan baru tentang Urgensi Bahasa Ibu di
Era Modern serta penanaman nilai-nilai sosial dan penahanan Bahasa Ibu.
Kekurangan, penulis kurang memahami diksi yang digunakan pengarang.
Nama : NAIM
Prodi : PGMI
Fakultas : Tarbiyah
& Ilmu Keguruan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar