MUSEUM
DAERAH SAMBAS
Nama
: Remi Andre
TTL:
Sambas,01 november 1998
Alamat:
Lubuk lagak
Pekerjaan
: Penjaga Museum Daerah Sambas
Museum daerah sambas yang beralamat
Jalan Merdeka Desa Lorong didirikan pada tahun 2004. Sejak berdiri berada
dibawah pengawasan dinas Porabudpar Kabupaten Sambas. Yang mempunyai tugas
mengumpulkan, meneliti, merawat dan memamerkan benda-benda budaya untuk tujuan
pendidikan, penelitian rekreasi/ pariwisata. Berdasarkan koleksi yang
dimilikinya, museum daerah sambas termasuk salah satu museum umum, memiliki dan
memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang
mencerminkan seluruh unsur kebudayaan sambas.
Sejak berdiri hingga sekarang museum
daerah sambas kurang terawat sampai akhirnya di pindahkan kepengurusannya
kepada dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten sambas. Fungsi museum daerah
tersebut sebagai tempat melakukan pengkajian yang berkualitas dimaksudkan agar
museum tidak hanya memiliki koleksi yang memberikan informasi dan pengetahuan
yang statis, tetapi juga dinamis. Museum juga memberikan layanan informasi
kepada publik agara apresiasinya meningkat, imajins, dan inovasi yang berkembang.
Museum daerah sambas juga harus
diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan pengunjung dan masyarakat
umum tentang koleksi barang-barang yang dimiliki oleh museum. Dimuseum juga
banyak berbagai macam barang yang dikolesi. Baik dari senjata, keramik, logam,
kain tenun sambas, alat kesenian, berbagai jenis uang, perabot rumah tangga dan
berbagai jenis lainnya. Sehinnga pengunjung dapat melihat langsung
barang-barang peninggalan bersejarah yang ada didalam museum daerah sambas.
Didepan halaman museum daerah sambas
terdapat sebuah bangunan monas kecil yang terbuat dari semen dan dihalaman juga
terdapat tanaman-tanaman bunga. Ruangan yang paling depan terdapat sebuah kursi
panjang zaman dahulu untuk raja/pangeran duduk. Dan disamping kursi juga terdapat
sebuah meja dan kursi untuk tamu-tamu kerajaan duduk. Museum daerah memiliki
ruangan yang panjang dan besar itu banyak menyimpan cerita-cerita sejarah zaman
dahulu baik dari kisah raja maupun adat istiadat yang ada disambas.
Diruangan sebelah kanan terdapat
macam-macam barang. Didalam ruangan pintu masuk terdapat sebuah foto/ gambar
surat asli (naskah) kaca berbingkai air emas, naskah/surat bertuliskan arab
melayu tentang pemuatan mesjid jami’ sambas pada tahun 195. Selain itu juga
terdapat foto/gambar kampung melayu hingga pasar sambas, yang berhias pada saat
kunjungan jenderal “Johan Paul Van Limburg Strium”. Dan foto-foto lainnya juga
ada sungai sambas tempo dulu dengan ciri khas rumas diatas air (Lanting).
Diruangan juga terdapat sebuah tempat
peludahan yang terbuat dari kuningan (gangsa) biasa. Yang biasannya digunakan
untuk meludah pada saat habis mengunyah dan sirih pinang. Dengan bahan lainnya
seperti gambir, tembakau dan kapur didalam mulut (menyunggi) yang biasannya sering
dikunyah oleh orang yang sudah tua agar gigi menjadi kuat, tahan dan bersih
meskipun gigi menjadi kemerahan setelah mengunyah sirih tersebut.
Diruangan juga terdapat sangek tabat,
desa samustida kec.teluk keramat serabut tersebut diperkirakan dimasa
pemerintahan kerajaan sambas hindu yang bernama ratu sepudak akhir abad ke 15, pusat
kerajaan berada dikota lama, kecamatan galing (sekarang). Rajutan tali tersebut
terbuat dari ijuk pohodenau (sejenis pohon palam). Ditemukan pada saat program
proyek normalisasi sungai didusun sangek tabat, desa samustida, kecamatan teluk
keramat, kabupaten samabas tahun 2005.
Dilemari kaca panjang juga terdapat
beberapa keris yang disusun rapi salah satunya adalah keris ber-luk yang terbuat dari bahan besi. Dengan kedua
sisi mata billah berbentuk kembar, ber-luk 4 berpamor, ber ulu dan bersarung
kayu. Berkilum kuningan yang baisanya digunakan sebagai senjata pertahanan diri
disaat bertarung,dan biasanya mempunyai kekuatan supranatural. Sehingga
kekuatan tersebut dapat mengalahkan lawan musuh dalam pertarungan. Dan samapai
sekarang keris ber-luk itu disimpan dan dimuseumkan agar dapat dilihat oleh
orang-oranag yang berkunjung ke museum daerah sambas.
Didalam ruangan museum juga terdapat
beberapa tempayan hijau yang besarnya sedang pada zaman dahulu. Yang sala
tempayan hijau tersebut dari paloh. Tempayan hijau tersebut terbuat dari bahan
keramik, digunakan untuk menampung air, sebagai air untuk diminum dan memsak
sesuatu, dan biasanya tempayan hijau tersebut digunakan untuk menyimpan beras,
dan beras tersebut untuk menjadi makanan pokok sehari hari yang dimasak menjadi
nasi. Sehingga sampai sekarang tempayan hijau itu masih disimpan dan dirawat
dengan baik oleh museum daerah sambas dan tempayan hijau itu akan menajdi
cerita sejarah dahulu.
Dimuseum juga terdapat pinggan, mangkuk
yang biasanya digunakan untuk menyajikan makanan dalam bentuk saprahan. Piring
dan mangkuk tersebut terbuat dari bahan keramik, yang biasaanya dihiasi bermacam-macam
motif dalam lukisan mangkuk dan pinggan. Sampai sekarang pinggan dan mangkuk
ini yang terbuat dari keramik yang berukuran cukup besar sudah tidak disajikan
lagi dalam saprahan. Sehingga mangkuk dan piring keramik sudah dijadikan barang
koleksi dimuseum. Sehinnga koleksi barang ini dapat menceritakan adat istiadat
saprahan disambas.
Disini juga terdapat sebuah appar yang
berasal dari kote bangun galing. Appar terbuat dari kuningan (gangsa) polos
digunakan dalam acara prosesi (berarak), perkawinan sunatan, syukuran
(selamatan), tepung tawar dan sebagainnya. Wadah untuk menaruh (meletakkan)
barang-barang asesoris dan makanan adat seperti: nasi ketan (pulut), telur yang
dihias, hidangan pengantin dan sebagai berikut. Digunakan pula sebagai meja
pengganti tempat makan. Pengantin/ hidangan istimewa (kedua mempelai) pengantin
melayu sambas.
Diruangan bagian belakang terdapat
sebuah lemari kaca besar yang didalamnya terdapat pedang yang tersusun rapi
salah satunnya adalah pedang kolonial yang berukuran 70 cm. Pedang kolonial
tersebut mata billah berbentuk melengkung, sisi kiri dan kanan
melengkung/cekung, pelindung tangan terbuat dari kayu. Digunakan oleh pasukan
kolonial (penjajahan) belanda waktu berada di indonesia untuk melawan musuh
yang ingin menjajah tempat tersebut .
Di dinding juga terdapat foto tempo lama
dengan warna hitam putih. Foto/ gambar tersebut adalah geratak asam sambas,
sebelum sebelum dibangun beton pada masa pemerintahan Sultan Mohammad
Tsafiuddin II sambas. Selain itu juga terdapat foto/ gambar geratak sabbo
sambas, sebelum roboh yang diterjang oleh banjir yang kuat pada tahun 1963
dalu.Sehinnnga sejak kejadian tersebut ada sebuah lagu geratak sabbo yang isi
dan pesan lagu tersebu dapat menceritakan kisah robohnya geratak sabbo tersebut
pada zaman duhulu.
Disini juga terdapat barang antik strika
serombang yang asal barang tersebut dari sambas. Strika serombang tersebut
terbuat dari kuningan padat, berlobang pada bagian kepala sebagai saluran
keluarnya asap. Isi dalam strika serombang tersebut terdapat arang panas yang
akan menghasilkan panas dan asap ketika digunakan saat menyetrika pakaian.
Sehingga pakaian bisa distrika dengan rapi menggunakan strika serombang
tersebut. Strika serombang sudah tidak lagi digunakan barang teersebut menjadi
langka, sehingga ada sebagian strika yang dimusemkan dan dijadikan sebagai
barang antik.
Selain itu juga terdapat sebuah gambus
yang asal barang tersebut dari selakau. Gambus tersebutvterbuat dari kayu
keras, merupakan salah satu alat musik petik yang digunakan untuk mengiringi
tarian sambas dan nyanyian lagu melayu sambas. Disini juga terdapat sebuah
lampu kristal duudk yang asal barang dari sambas. Yang terbuat dari kaca
kristal putih dengan dasar bahan besi, bersumbu mengguankan bahaan bakar minyak
tanah dan minyak makan. Digunakan untuk alat peneranagan ruangan rumah, agar
rumah menjadi terang dan tidak gelap. Sehingga lampu kristal ini dapat
digunakan sebelum adanya listrik pada zaman dulu.
Dan barang lainnya juga ada yaitu batil/
batel yang asal barang dari sekura. Batil/batel terbuat dari kuningan (gangsa)
polos, digunakan untuk wadah pencuci tangan sebelum makan dan sebagian barang
pelengkap secara adat saprahan melayu sambas dan umumnya dipakai oleh
masyarakat sambas sehari-hari. Tetapi barang tersebut seiring berjalannya waktu
yang sudah modern. Barang batil / batel sudah jarang digunakan sehinnga barang
tersebut dijadikan barang sejarah dan disimpan di museum daerah.
Dimuseum ini juga terdapat lesung yang
berwarna hitam asal barang lesung tersebut dari sambas. Lesung tersebut terbuat
dari bahan kayu belian (ulin), digunakan oleh masyarakat sambas sebagai salah
satu alat landasan untuk menumbuk jenis biji-bijian seperti: padi, kopi dan
sebagainya. Selain itu ada juga terdapat sebuah barang bom nica yang asal
barang dari selakau. Yang terbuat dari lempengan baja, berisi amunisasi bahan
peledak, digunakan untuk meledakkan (menghancurkan) wilayah yang relatif agak
luas, dengan kekuatan daya ledak yang sangat tinggi.
Disini juga ada tombak yang asal barang
dari sambas, tembok tersebut terbuat dari kuningan. Mulai dari pangkal sampai
mata tembok, berkurikulum dengan kedua sisi berbentuk segitiga dan cekung.
Batang tembok terbuat dari kayu besi (belian,ulin). Dipergunakan sebagai
senjatan pertahanan diri oleh prajurit raja/ pangeran keraton sambas pada tempo
dulu. Dan sampai sekarang barang tersebut masih digunakan oleh raja keraton
sambas dengan acara-acara tertentu.
Ruangan tengah juga terdapat peti aladin
asal peti aladin tersebut dari sambas. Peti aladin tersebut terbuat dari kayu
jati, dengan hiasan bahan kuningan dan perak. Digunakan untuk menyimpan
pakaian, surat-surat berharga dan barang-barang perhiasan. Disni juga terdapat
barang jam saku anti magnetik asal barang tersebut dari sambas. Terbuat dari
bahan perak berasal dari kenya, digunakan untuk mengetahui keadaan waktu setiap
saat dan barang tersebut anti air dan cuaca. Sehinngga barang tersebut langka
untuk ditemukan terkecuali di museum daerah.
Dimuseum daerah ada juga untuk menyimpan
barang perhiasan asal barang tersebut dari sambas yang terbuat dari kuningan
(gangsa). Digunakan untuk menyimpan (menaruh) barang-barang perhiasan (cincin,
gelang dan kalung). Ada juga barang lainnya disini seperti meriam lele yang
terbuat dari tembaga kuningan ( gangsa padat, berisi amunisi dan bahan-bahan
peledak, digunakan untuk meledakkan (menghancurkan) wilayah yang relatif dekat.
Dan masih banyak lagi koleksi barang-barang antik yang terdapat dimuseum dearah
sambas.
MATA KULIAH BAHASA INDONESIA SD/MI II
DOSEN
PENGAMPU
HARIS PRIBADI, M.Pd.
HARIS PRIBADI, M.Pd.
OLEH
,
RIMA EKA YANTI (1022017050)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS
TAHUN 1439 H / 2018 M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar