Jumat, 28 Desember 2018

museum daerah sambas (RIMA)


MUSEUM DAERAH SAMBAS


Nama : Remi Andre
TTL: Sambas,01 november 1998
Alamat: Lubuk lagak
Pekerjaan : Penjaga Museum Daerah Sambas
Museum daerah sambas yang beralamat Jalan Merdeka Desa Lorong didirikan pada tahun 2004. Sejak berdiri berada dibawah pengawasan dinas Porabudpar Kabupaten Sambas. Yang mempunyai tugas mengumpulkan, meneliti, merawat dan memamerkan benda-benda budaya untuk tujuan pendidikan, penelitian rekreasi/ pariwisata. Berdasarkan koleksi yang dimilikinya, museum daerah sambas termasuk salah satu museum umum, memiliki dan memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan sambas.  
Sejak berdiri hingga sekarang museum daerah sambas kurang terawat sampai akhirnya di pindahkan kepengurusannya kepada dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten sambas. Fungsi museum daerah tersebut sebagai tempat melakukan pengkajian yang berkualitas dimaksudkan agar museum tidak hanya memiliki koleksi yang memberikan informasi dan pengetahuan yang statis, tetapi juga dinamis. Museum juga memberikan layanan informasi kepada publik agara apresiasinya meningkat, imajins, dan inovasi yang berkembang.
Museum daerah sambas juga harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan pengunjung dan masyarakat umum tentang koleksi barang-barang yang dimiliki oleh museum. Dimuseum juga banyak berbagai macam barang yang dikolesi. Baik dari senjata, keramik, logam, kain tenun sambas, alat kesenian, berbagai jenis uang, perabot rumah tangga dan berbagai jenis lainnya. Sehinnga pengunjung dapat melihat langsung barang-barang peninggalan bersejarah yang ada didalam museum daerah sambas.
Didepan halaman museum daerah sambas terdapat sebuah bangunan monas kecil yang terbuat dari semen dan dihalaman juga terdapat tanaman-tanaman bunga. Ruangan yang paling depan terdapat sebuah kursi panjang zaman dahulu untuk raja/pangeran duduk. Dan disamping kursi juga terdapat sebuah meja dan kursi untuk tamu-tamu kerajaan duduk. Museum daerah memiliki ruangan yang panjang dan besar itu banyak menyimpan cerita-cerita sejarah zaman dahulu baik dari kisah raja maupun adat istiadat yang ada disambas.
Diruangan sebelah kanan terdapat macam-macam barang. Didalam ruangan pintu masuk terdapat sebuah foto/ gambar surat asli (naskah) kaca berbingkai air emas, naskah/surat bertuliskan arab melayu tentang pemuatan mesjid jami’ sambas pada tahun 195. Selain itu juga terdapat foto/gambar kampung melayu hingga pasar sambas, yang berhias pada saat kunjungan jenderal “Johan Paul Van Limburg Strium”. Dan foto-foto lainnya juga ada sungai sambas tempo dulu dengan ciri khas rumas diatas air (Lanting).
Diruangan juga terdapat sebuah tempat peludahan yang terbuat dari kuningan (gangsa) biasa. Yang biasannya digunakan untuk meludah pada saat habis mengunyah dan sirih pinang. Dengan bahan lainnya seperti gambir, tembakau dan kapur didalam mulut (menyunggi) yang biasannya sering dikunyah oleh orang yang sudah tua agar gigi menjadi kuat, tahan dan bersih meskipun gigi menjadi kemerahan setelah mengunyah sirih tersebut.
Diruangan juga terdapat sangek tabat, desa samustida kec.teluk keramat serabut tersebut diperkirakan dimasa pemerintahan kerajaan sambas hindu yang bernama ratu sepudak akhir abad ke 15, pusat kerajaan berada dikota lama, kecamatan galing (sekarang). Rajutan tali tersebut terbuat dari ijuk pohodenau (sejenis pohon palam). Ditemukan pada saat program proyek normalisasi sungai didusun sangek tabat, desa samustida, kecamatan teluk keramat, kabupaten samabas tahun 2005.
Dilemari kaca panjang juga terdapat beberapa keris yang disusun rapi salah satunya adalah keris ber-luk  yang terbuat dari bahan besi. Dengan kedua sisi mata billah berbentuk kembar, ber-luk 4 berpamor, ber ulu dan bersarung kayu. Berkilum kuningan yang baisanya digunakan sebagai senjata pertahanan diri disaat bertarung,dan biasanya mempunyai kekuatan supranatural. Sehingga kekuatan tersebut dapat mengalahkan lawan musuh dalam pertarungan. Dan samapai sekarang keris ber-luk itu disimpan dan dimuseumkan agar dapat dilihat oleh orang-oranag yang berkunjung ke museum daerah sambas.
Didalam ruangan museum juga terdapat beberapa tempayan hijau yang besarnya sedang pada zaman dahulu. Yang sala tempayan hijau tersebut dari paloh. Tempayan hijau tersebut terbuat dari bahan keramik, digunakan untuk menampung air, sebagai air untuk diminum dan memsak sesuatu, dan biasanya tempayan hijau tersebut digunakan untuk menyimpan beras, dan beras tersebut untuk menjadi makanan pokok sehari hari yang dimasak menjadi nasi. Sehingga sampai sekarang tempayan hijau itu masih disimpan dan dirawat dengan baik oleh museum daerah sambas dan tempayan hijau itu akan menajdi cerita sejarah dahulu.
Dimuseum juga terdapat pinggan, mangkuk yang biasanya digunakan untuk menyajikan makanan dalam bentuk saprahan. Piring dan mangkuk tersebut terbuat dari bahan keramik, yang biasaanya dihiasi bermacam-macam motif dalam lukisan mangkuk dan pinggan. Sampai sekarang pinggan dan mangkuk ini yang terbuat dari keramik yang berukuran cukup besar sudah tidak disajikan lagi dalam saprahan. Sehingga mangkuk dan piring keramik sudah dijadikan barang koleksi dimuseum. Sehinnga koleksi barang ini dapat menceritakan adat istiadat saprahan disambas.
Disini juga terdapat sebuah appar yang berasal dari kote bangun galing. Appar terbuat dari kuningan (gangsa) polos digunakan dalam acara prosesi (berarak), perkawinan sunatan, syukuran (selamatan), tepung tawar dan sebagainnya. Wadah untuk menaruh (meletakkan) barang-barang asesoris dan makanan adat seperti: nasi ketan (pulut), telur yang dihias, hidangan pengantin dan sebagai berikut. Digunakan pula sebagai meja pengganti tempat makan. Pengantin/ hidangan istimewa (kedua mempelai) pengantin melayu sambas.
Diruangan bagian belakang terdapat sebuah lemari kaca besar yang didalamnya terdapat pedang yang tersusun rapi salah satunnya adalah pedang kolonial yang berukuran 70 cm. Pedang kolonial tersebut mata billah berbentuk melengkung, sisi kiri dan kanan melengkung/cekung, pelindung tangan terbuat dari kayu. Digunakan oleh pasukan kolonial (penjajahan) belanda waktu berada di indonesia untuk melawan musuh yang ingin menjajah tempat tersebut .
Di dinding juga terdapat foto tempo lama dengan warna hitam putih. Foto/ gambar tersebut adalah geratak asam sambas, sebelum sebelum dibangun beton pada masa pemerintahan Sultan Mohammad Tsafiuddin II sambas. Selain itu juga terdapat foto/ gambar geratak sabbo sambas, sebelum roboh yang diterjang oleh banjir yang kuat pada tahun 1963 dalu.Sehinnnga sejak kejadian tersebut ada sebuah lagu geratak sabbo yang isi dan pesan lagu tersebu dapat menceritakan kisah robohnya geratak sabbo tersebut pada zaman duhulu.
Disini juga terdapat barang antik strika serombang yang asal barang tersebut dari sambas. Strika serombang tersebut terbuat dari kuningan padat, berlobang pada bagian kepala sebagai saluran keluarnya asap. Isi dalam strika serombang tersebut terdapat arang panas yang akan menghasilkan panas dan asap ketika digunakan saat menyetrika pakaian. Sehingga pakaian bisa distrika dengan rapi menggunakan strika serombang tersebut. Strika serombang sudah tidak lagi digunakan barang teersebut menjadi langka, sehingga ada sebagian strika yang dimusemkan dan dijadikan sebagai barang antik.
Selain itu juga terdapat sebuah gambus yang asal barang tersebut dari selakau. Gambus tersebutvterbuat dari kayu keras, merupakan salah satu alat musik petik yang digunakan untuk mengiringi tarian sambas dan nyanyian lagu melayu sambas. Disini juga terdapat sebuah lampu kristal duudk yang asal barang dari sambas. Yang terbuat dari kaca kristal putih dengan dasar bahan besi, bersumbu mengguankan bahaan bakar minyak tanah dan minyak makan. Digunakan untuk alat peneranagan ruangan rumah, agar rumah menjadi terang dan tidak gelap. Sehingga lampu kristal ini dapat digunakan sebelum adanya listrik pada zaman dulu.
Dan barang lainnya juga ada yaitu batil/ batel yang asal barang dari sekura. Batil/batel terbuat dari kuningan (gangsa) polos, digunakan untuk wadah pencuci tangan sebelum makan dan sebagian barang pelengkap secara adat saprahan melayu sambas dan umumnya dipakai oleh masyarakat sambas sehari-hari. Tetapi barang tersebut seiring berjalannya waktu yang sudah modern. Barang batil / batel sudah jarang digunakan sehinnga barang tersebut dijadikan barang sejarah dan disimpan di museum daerah.
Dimuseum ini juga terdapat lesung yang berwarna hitam asal barang lesung tersebut dari sambas. Lesung tersebut terbuat dari bahan kayu belian (ulin), digunakan oleh masyarakat sambas sebagai salah satu alat landasan untuk menumbuk jenis biji-bijian seperti: padi, kopi dan sebagainya. Selain itu ada juga terdapat sebuah barang bom nica yang asal barang dari selakau. Yang terbuat dari lempengan baja, berisi amunisasi bahan peledak, digunakan untuk meledakkan (menghancurkan) wilayah yang relatif agak luas, dengan kekuatan daya ledak yang sangat tinggi.
Disini juga ada tombak yang asal barang dari sambas, tembok tersebut terbuat dari kuningan. Mulai dari pangkal sampai mata tembok, berkurikulum dengan kedua sisi berbentuk segitiga dan cekung. Batang tembok terbuat dari kayu besi (belian,ulin). Dipergunakan sebagai senjatan pertahanan diri oleh prajurit raja/ pangeran keraton sambas pada tempo dulu. Dan sampai sekarang barang tersebut masih digunakan oleh raja keraton sambas dengan acara-acara tertentu.
Ruangan tengah juga terdapat peti aladin asal peti aladin tersebut dari sambas. Peti aladin tersebut terbuat dari kayu jati, dengan hiasan bahan kuningan dan perak. Digunakan untuk menyimpan pakaian, surat-surat berharga dan barang-barang perhiasan. Disni juga terdapat barang jam saku anti magnetik asal barang tersebut dari sambas. Terbuat dari bahan perak berasal dari kenya, digunakan untuk mengetahui keadaan waktu setiap saat dan barang tersebut anti air dan cuaca. Sehinngga barang tersebut langka untuk ditemukan terkecuali di museum daerah.
Dimuseum daerah ada juga untuk menyimpan barang perhiasan asal barang tersebut dari sambas yang terbuat dari kuningan (gangsa). Digunakan untuk menyimpan (menaruh) barang-barang perhiasan (cincin, gelang dan kalung). Ada juga barang lainnya disini seperti meriam lele yang terbuat dari tembaga kuningan ( gangsa padat, berisi amunisi dan bahan-bahan peledak, digunakan untuk meledakkan (menghancurkan) wilayah yang relatif dekat. Dan masih banyak lagi koleksi barang-barang antik yang terdapat dimuseum dearah sambas.  











MATA KULIAH  BAHASA INDONESIA SD/MI II
DOSEN PENGAMPU
HARIS PRIBADI, M.Pd.
OLEH ,
RIMA EKA YANTI   (1022017050)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS
TAHUN 1439 H / 2018 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar