SEJARAH KERATON KESULTANAN SAMBAS
ISTANA ALWATZIKHOEBBILLAH
Gambar 1.gerbang 2 keraton.
Kesultanan Sambas adalah kesultanan yang terletak di
wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat. Kesultanan Sambas adalah
penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan sambas sebelumnya. Kerajaan yang
bernama Sambas di wilayah ini paling tidak telah berdiri dan berkembang sebelum
abad ke-14 M.
Keraton atau Istana Alwatzikhoebbillah terletak di
sebuah pusat kota yang bernama Sambas, jarak yang ditempuh untuk mencapai kota
ini dari pusat kota Pontianak sekitar 175 km/jam dan cukup memakan waktu
sekitar 5 jam jika menggunakan transportasi sepeda motor atau mobil. Pusat
Kerajaan Kota Sambas ini terletak di sebuah desa yang bernama desa Dalam Kaum
kecamatan sambas, tepatnya di pingir sungai besar sambas tak jauh dari jembatan
yang juga salah satu peninggalan bersejarah dari kerajaan sambas yang bernama
“Geratak Saboek”. Selain itu letaknya juga tidak jauh dari lokasi dinas
pemerintahan Kabupaten Sambas, jadi Istana Ini lebih mendapat perhatian khusus
dari pemerintah.
Bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima
pada tahun 1632 (sekarang telah dihancurkan). Keraton yang masih berdiri sampai
sekarang dibangun pada masa pemerintahan Raden Muhammad Mulia Ibrahim (Sultan
Muhammad Ibrahim Safiuddin) pada tahun 1933. Sebagai sebuah keraton di tepian
sungai dibangun dermaga tempat perahu/kapal Sultan. Dermaga yang terletak tepat
di depan keraton di kenal dengan nama jembatan seteher.
Asal usul nama Keraton Alwatzikhoebillah sendiri
artinya Berpegang teguh dengan ketentuan Allah. Kini Istana Alwatzikhoebillah
Sambas, dirawat oleh generasi penerus kesultanan. Bangunan yang teridiri dari
tiga bagian utama ini masih kokoh berdiri.
Sebelumnya, kota sambas hanya menjadi ibu kota
kecamatan, yang dahulu beribu kota di Singkawang pada tahun (1957-1999). Dahulu sejarah Kesultanan Sambas
adalah sebuah Kerajaan Kesultanan Terbesar di Kalimantan Barat. Sejak Sultan Sambas yang
pertama yaitu Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668), Kesultanan Sambas
terkenal besar pada masa itu.
Kejayaan Kesultanan Sambas telah membesarkan nama
Sambas pada masa itu, sampai pada Sultan Sambas ke-15 yaitu Sultan Muhammad
Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943). Kerajaan Sambas sirna ketika Sultan ke-15
wafat karena ditangkap dan dibunuh oleh tentara jepang pada tahun 1943.
Sebelumnya kejayaan sambas sesungguhnya tidak hanya dimulai dari Sultan
Muhammad Syafiuddin I (1631-1668). Sejak dahulu abad ke-13 M, sudah terdahulu
ada kekuasaan raja-raja Sambas. Yang bermula dari kedatangan prajurit dari
majapahit di paloh. Dan dahulu kala pusat kerajaan sambas berpindah di sebuah
desa yang bernama Kota Lama, kemudian pindah lagi ke kota bangun, dari kota
bangun pindah lagi ke kota bandir dan kemudian pindah lagi ke lubuk madung,
pusat kerajaan ini telah beberapa kali berpindah.
Barulah pada masa Sultan ke-2 yaitu Raden Bima gelar
Sultan Muhammad Tajuddun (1668-1708) pusat Kesultanan Sambas dibangun di Muara
Ulakan. Di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas kecil, sungai subah, dan
sungai Tebarau. Sejak tahun 1668 Kota Sambas itu meliputi daerah Pemangkat,
Singkawang, dan daerah sambas sendiri, yang kaya akan emas.
Sejak zaman pendudukan jepang dan NICA (1942-1950),
integritas Kerajaan Sambas telah sirna karena terlibat dengan pergolakan perang
Dunia II. Ketika daerah sambas atau Kalimantan Barat kembali bernaung di bawah
Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950,dibentuknya pemerintahan
administrative Kabupaten Sambas, rakyat sambas menuntut agar kota Sambas tetap
menjadi sebuah Kabupaten yang terdiri sejak tanggal 15 juli 1999 hingga
sekarang. Pemerintahan Kabupaten Sambas
berkedudukan di kota Sambas.
Bangunan Keraton menghadap ke arah barat, kea rah
sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat sungai Sambas Kecil, dan ke
arah selatan terdapat Sungai Teberau. Di sekeliling tanahb keraton merupakan
daerah rawa-rawa dan mengelompok di beberapa tempat terdapatg makam keluarga
sultan.
Pada saat ini Kerajaan Sambas masih berdiri, sebagai
sebuah Keraton di tepian sungai sambas, yang mana saat ini Keraton Sambas
adalah salah satu tempat bersejarah yang sering dikunjungi oleh masyarakat
setempat atau dari luar daerah dan luar negri. Bangunan keraton ini memiliki
gerbang masuk yang menuju halaman keraton yang dibuat bertingkat dua, pada saat
tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan agar rakyat seluruh
kota mendengar ketika ada hal yang ingin diumumkan kepada rakyat. Bagian bawah
digunakan untuk tempat penjaga dan tempat peristrahatan bagi rakyat yang ingin
menghadap Sultan.
Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan,
pengunjung dapat melihat tiang bendera yang disangga empat batang tiang, yang
berada di tengah halaman keraton. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan
tiang penyangganya melambangkan sebagai 4 pembantu sultan. Dan dibawah tiang
bendera terdapat 2 buah meriam, dan salah satunya meriam tersebut diberikan
dengan nama Gantar Alam.
Di samping keraton juga terdapat satu buah masjid
peninggalan dari Kesultanan Sambas,
bangunan masjid ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan
mushola. Di bangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas
pada tahun 1702-1727 Masehi, kemudian masjid itu direnovasi oleh putranya,
Sultan Muhammad Safiuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami’ dan diresmikan
pada tanggal 10 oktober 1885 Masehi. Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua
di Kalimantan Barat.
Gambar 2. Masjid Jami’ Keraton Sambas.
Sebelum memasuki keraton, dari halaman yang ada tiang
benderanya, kita akan malalui lagi satu buah gerbang. Gerbang masuk ini juga
terdiri dari dua lantai sama dengan gerbang masuk yang pertama, tetapi bentuk
denahnya empat persegi panjang. Fungsi dari gerbang di bagian lantai bawah
adalah untuk para penjaga yang bertugas selama 24 jam, dan diatas gerbang
digunakan untuk tempat keluarga sultan bersantai.
Setelah melewati gerbang dan pagar halaman, kemudian
pengunjung bisa langsung sampai pada bangunan Keraton. Di dalam kompleks
keraton pengunjung akan menemukan tiga buah bangunan. Di sebalah kiri bangunan
utama terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada zaman dahulu bangunan
ini berfungsi sebagai dapur. Di sebelah kanan juga terdapat bangunan yang sama
besarnya dengan ukuran dapur, bangunan idi dihubungkan dengan koridor beratap
bangunan ini adalah tempat sultan dan para pembantunya bekerja.
Di dalam bangunan ruang kerja sultan terdapat
beberapa benda pusaka bersejarah, yaitu
Meriam lele yang berjumlah 7 buah , hingga saat ini masih dianggap sebagai
barang keramat yang sering dikunjungi penduduk, masing masing meriam tersebut
mempunyai nama, yaitu Raden Mas, Raden Samber, Ratu Kilat, Ratu pejajaran,Raden
Pajang, Panglima Guntur, Ratu Putri.
Bangunan utama keraton, terdiri dari beberapa ruangan,
yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur Sultan, kamar tidur istri
Sultan, kamar tidur anak-anak Sultan, ruang keluarga, ruang makan, dan ruang
khusus menjahit. Di bagian atas ambang pintu terdapat lambing Kesultanan Sambas
dengan tulisan “Sultan Van Sambas” dan angka tahun 15 juli 1933. Angka tahun
ini merupakan tahun di resmikannya bangunan keraton.
Diruangan pertama kita akan menemukan ruang tamu yang
cukup luas yang mempunyai kursi tamu yang cukup unik bernuansa kerajaan, dan
tiga buah cermin yang berukuran besar yang masing masing di simpan pada sudut
ruang tamu, terdapat juga dua buah guci besar peninggalan kerajaan disimpan
dalam lemari kaca yang berada di samping kiri dan kanan sebelum memasuki ruang
tengah keraton. Foto – foto kesultanan sambas berjejeran pada setiap dinding
ruangan. Salah satu pemandangan yang cukup menarik dari sebuah foto yang diambil pada tahun 1937, di sebuah foto
tersebut diberikan keterangan yang bertulisan “Sultan Moh. Mulia Ibrahim dan
Permaisuri bersilaturahmi di rumah orang kaya di Kampung Tumok.
Di bagian dalam bangunan ini, terdapat 3 buah kamar, salah
satu kamar yang menyita perhatian adalah kamar tidur Sultan yang dimana kamar
itu bernuansa kuning yang melambangkan warna khas kesultanan sambas. Di dalam
kamar tersebut tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya
tempat tidur sultan, pakaian kebesaran, pakayan pengantin adat sambas, payung kesultanan,
pedang, dan meja tulis sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar
keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas.
Di bagian belakang Keraton terdapat sebuah kolam
peninggalan pada masa kesultanan terdahulu. Dan di bidang tanah yang masih
bagian dari tanah keraton terdapat beberapa rumah yang dibangun, rumah itu
merupakan rumah yang di huni oleh pemiliknya yang masih punya hubungan darah
dengan raja-raja sambas. Sekarang di bagian samping keraton dapat kita jumpai
sebuah halaman olah raga, lapangan volli.
Keraton saat ini dijaga oleh kerabat dekat kesultanan.
Kondisi Keraton pada saat ini masiih terjaga, walaupun ada beberapa bangunan
keraton yang sudah agak rusak dan perlu perbaikan. Keraton setiap hari tidak
pernah sepi pengunjung.
Harapan Penulis kedepannya adalah semoga pemerintah
yang bukan hanya di kabupaten sambas lebih memperhatikan dan memberikan
dukungan yang lebih untuk pembangunan dan peningkatan tempat wisata bersejarah
yang ada di Kabupaten Sambas. Dan sangat perlu juga peran kita sebagai
pengunjung agar selalu mejaga keindahan halaman keraton sambas, untuk
melestarikan lingkungan keraton.
PENULIS : LISMA ASTRIA
NIM
:102201757