SEJARAH
SINGKAT ISTANA ALWATZIKOEBILLAH

Sebelumnya, sambas merupakan kerajaan Hindu. Kemudiam hari, sambas
berubah menjadi Kerajaan Islam dengan nama kesultanan Sambas. Sebelumnya, kota
Sambas menjadi ibukota kecamatan, salah
satu kecamatan dalam kabupaten Daerah Tingkat II samabas yang beribukotakan di
Singkawang (sejak tahun 1957-1999). Kalau kita lihat kebelakang, sejarah
kesultanan Sambas adalah kerajaan kesultanan besar di Kalimantan maupun
nusantara Indonesia. Kesultanan sambas terkenal besar sejak sultan Sambas yang
pertama Sultan Muhammad Syafiudin I 91631-1688).
Kejayaan kesultanan sambas telah membesarkan nama negri Sambas, sampai
pada sultan Sambas ke-15 yaitu sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin
(1931-1688). Kerajaan sambas sirna ketika sultan ke-15 wafat karena ditangkap
dan di bunuh oleh tentara pendudukan jepang tahun 1943. Kekejaman facisme
jepang meruntuhkan kejayaan Sambas.
Nama dan kejayaan Sambas sesungguhnya tidak hanya dimulai dari Sultan
Muhammad Syafiuddin I ( 1631-1668 ). Sejak abad ke-13 masehi sudah ada
kekuasaan raja-raja Sambas. Bermula dari kedatangan prajurit majapahit Paloh.
Kemudian pusat kerajaan samabas berpindah ke kota lama teluk keramat. Dari kota
lama pindah ke kota bangun di sungai sambas besar. Dari kota bangun pindah lagi
ke kota Bandir dan kemudian Pindah lagi ke lubuk Madung. Konon menurut cerita,
rombongan Raden Sulaiman pernah singgah di Tebas. Mereka sempat menebas daerah
ini dan kemudian di tinggalkan. Dinamakanlah daerah itu tebas.
Barulah pada masa sultan sambas ke-2 yaitu Raden Bima gelar Sultan
Muhammad Tajuddin (1668-1708) pusar Kesultanan Sambas dibangun di Muara Ulakan,
di pertemuan 3 sungai yaitu sungai sambas kecil, sungai Subah dan sungai
Tebarau. Sejak tahun 1668 Kota Sambas meliputi daerah Pemangkat, Singkawang,
dan daerah Sambas Sendiri, yang kaya akan emas. Pusat pemerintahan Kesultanan
Sambas terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang berukuran
sekitar 16.781 meter persegi membujur arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat
beberapa buah bangunan, seperti dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar,
dua buah gerbang, dua puluh paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan
inti keraton , dapur dan masjid Sultan.
Salah satu Bangunan bersejarah yang sampai saat ini sangat akrab dengan
masyarakat Sambas, bernama lengkap Keraton Alwaziktubilllah Sambas. Bangunan
Karaton menghadap kearah barat arah sungai. Lokasi berdirinya Keraton
Alwakziktubillah Sambas, berada tepat di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas,
Kabupaten Sambas, propinsi Kalimantan Barat. Ciri khusus untuk mengetahui
lokasi keraton, yaitu berada dekat dipinggir sungai Sambas kecil dan Teberau
yang dikenal masyarakat luas dengan nama Muare Ulakan (Desa Dalam Kaum). Lokasi
yang menjadi saksi bisu berdirinya Keraton Alwaziktubillah ini, menyimpan
sejarah yang cukup panjang tentang awal mula berdirinya. Keraton Sambas disebut
juga Istana Alwazikhubillah. Istana Alwazikhubillah merupakan sebuah kerajaan
atau dikanal dengan Negeri Sambas yang dipimpin oleh keluarga sultan.
Kerajaan Sambas dibangun pada
tahun1662 Masehi, yang dipimpin oleh seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad
Syafiuddin, yang merupakan raja pertama yang memimpin kerajaan ini. Sedangkan
untuk bangunan keraton itu sendiri, khususnya bangunan keraton yang lama dibangun
oleh Sultan Bima pada tahun 1632. Sayangnya, bangunan keraton yang lama
tersebut sudah dihancurkan dan dibangunlah bangunan keraton yang baru pada
tahun 1933. Hasilnya, seperti yang terlihat sampai saat ini, baik yang terlihat
dari luar maupun dalam bangunan keraton masih utuh seperti dahulu.
Adapun pendeskriprian tempat-tempat
dan peninggalan sejarah yang termasuk
dalam bagian keraton ini dapat dijabarkan berdasarkan hasil pengamatan secara
langsung. Melakukan pengamatan secara langsung akan lebih menguatkan kembali
bukti-bukti peninnggalan sejarah Kerajaan Alwazikhubillah. Tentunya, bangunan
yang memiliki nilai sejarah yang berharga ini mempunyai aspek bangunan yang
cukup luas untuk dideskripsikan. Pendeksripsian bisa dimulai dari luar bangunan
istana.
Lokasi keraton yamg berada di
pinggiran sungai , dimana sarana transportasinya berupa perahu atau kapal, maka
dibangunlah dermaga. Dermaga yang masih ada sampai saat ini, dulunya berfungsi
sebagai tempat berlabuhnya perahu atau kapal sultan. Dermaga yang terletak
didepan keraton ini dikenal dengan nama jembatan seteher.
Dermaga unik ini, berdekatan dengan
masjid yang juga cukup bersejarah pada
masa kerajaan, yaitu masjid Jami. Mesjid ini merupakan masjid yang berada tepat
didepan halaman keraton. Selain itu, masjid jami juga dikenal sebagai masjid
tertua yang memiliki arsitektur bangunan lama bernuansa Arabia dan kentalnya
kebudayaan melayu.
Selain bangunan yang berada di
pinggiran sungai, diketahui juga bahwa, disekeliling tanah keraton merupakan
daerah rawa-rawa dan mengelompok dibeberapa tempat yang terdapat juga makam
keluarga sultan. Tepat didepan keraton, terdapat gerbang masuk menuju halaman
keraton. Gerbang masuk dibuat bertingkat dua, dengan denahnya berbentuk segi
delapan luasnya 76 meter persegi. Dibagian bawah digunakan untuk tempat penjaga
dan tempat rakyat beristirahat dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur
penjagaan.
Gerbang masuk yang dibuat bertingkat
tersebut, memiliki fungsi tersendiri, seperti yang telah dijelaskan pada bagian bawah gerbang, bagian atas juga
memiliki fungsi khusus. Fungsinya adalah tempat menabuhkan gamelan. Hal
tersebut dilakukan, karena pada saat ada keramaian dikeraton, rakyat dapat
mengetahuinya melalui bunyi tabuhan gamelan tersebut. Setelah melewati pintu
gerbang, barulah memasuki area halaaman keraton.
Ditengah halaman keraton terdapat
tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Empat batang tiang ini
melambangkan empat pembantu sulta yang disebut wazir. Dibagian bawah tiang
bendera terdapat dua pucuk meriam dan salah satu diantaranaya bernama Si Gantar
Alam.
Halaman keraton yang cukup luas, dahulunya dimanfaatkan sebagai tempat
berkumpulnya masyarakat jika ada suatu perayaan dikerajaan. Tidak jauh
fungsinya dari jaman kerajaan, pada saat sekarang juga dimanfaat masyarakat
sebagai tempat untuk berkumpul, khususnya pada kegiatan-kegiatan tertentu.
Selain itu, menjadi tempat bermain yang menyenangkan bagi anak-anak.
Sebelum memasuki bagian dalam atau
ruang keraton, adalagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juaga terdiri dari dua
dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Tentunya ukuran
gerbang yang kedua ini lebih kecil daripada gerbang masuk yng pertama.
Setelah melalui gerbang kedua dan
pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Di dalam kompleks keraton
terdapat tiga buah bangunan. Ketiga bangunan ini memiliki ruang-ruang khusus
sebagai tempat kediaman sultan beserta keluarganya.
Di sebelah kiri bangunan utama
terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada masa la,pau bangunan ini berberfungsi sebagai dapur dan tempat para
juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang
ukurannya sama dengan bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat
sultan bekerja. Pada bangunan ini disambungkan dengan bangunan keraton utama.
Di bagian dalam bangunan tempat
sultan bekerja, terdapat beberapa benda-benda pusaka. Benda pusaka tersebut
diantaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan sultan, gong, tombak,
paying kuning, dan meriam lele. Meriam
lele yang berjumlah tujuh buah ini dianggap barang keramat dan sering diziarahi
penduduk.
Bangunan utama keraton terdiri atas
tujuh ruangan. Ketujuh ruangan tersebut yaitu balairung terletak dibagian
depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak
sultan, ruang keluarga, ruang makan dan ruang khusus menjahit. Sekarang
ruang-ruang tersebut masih ditempati oleh keturunan sultan, yang sekaligus
menjaga benda-benda pusaka peninggalan kerajaan.
Peninggalan benda pusaka, bisa
dijumpai di balairung. Benda pusaka yang masih utuh dan terawatt diruang ini, yaiti 3 buah cermin berukuran besar yang
merupakan hadiah pemberiaan dari kerajaan Inggris. Selain cermin, terdapat juga
dua pasu bunga berukuran besar yang berwarna kombinasi antara biru dan putih.
Tidak kalah menarik dengan ruang balairung,
didepan kamar tidur serta didalam kamar tidur sultan juga terdapat benda-benda
pusaka yang menjadi bukti sejarah adanya kerajaan. Terdapat foto-foto sultan
dan keluarga keluarga beserta peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan.
Khusus ruang tidur sultan, terdapaat
kasur dan pakain sultan yang sampai saat ini masih terawatt dengan baik.
Demikian, serangkain deskripsi
tentang Keraton sambas. Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah ikut
menjaga peninggalan sejarah yang ada. Hal tersebut sangat penting untuk
dilakukan karena benda-benda tersebut akan memjadi bukti peradaban yang pernah
terjadi dimasa lampau dan agar kita dapat melestarikan kebudayaan. Harapan
terbesar kedepannya adalah Keraton Sambas ini tidak hanya menjadi tempat wisata
untuk masyarakat lokal saja, akan tetapi bias dikenal luas secara nasional
bahkan internasional. Meskipun sekarang tidak lagi terasa nuansa pemerintahan
kerajaan, dan hanya bias merasakan dan melihat bukti nyata bahwa dulu memang
ada sejarah tentang Karaton Sambas dengan adanya Istana Alwatzikoebillah.
Penulis ;
Lusi Yusmayanti
NIM ; 1022017046
Tidak ada komentar:
Posting Komentar