Kamis, 07 Februari 2019

SEJARAH SINGKAT ISTANA ALWATZIKOEBILLAH ( lusi)


SEJARAH SINGKAT ISTANA ALWATZIKOEBILLAH


Sebelumnya, sambas merupakan kerajaan Hindu. Kemudiam hari, sambas berubah menjadi Kerajaan Islam dengan nama kesultanan Sambas. Sebelumnya, kota Sambas  menjadi ibukota kecamatan, salah satu kecamatan dalam kabupaten Daerah Tingkat II samabas yang beribukotakan di Singkawang (sejak tahun 1957-1999). Kalau kita lihat kebelakang, sejarah kesultanan Sambas adalah kerajaan kesultanan besar di Kalimantan maupun nusantara Indonesia. Kesultanan sambas terkenal besar sejak sultan Sambas yang pertama Sultan Muhammad Syafiudin I 91631-1688).
Kejayaan kesultanan sambas telah membesarkan nama negri Sambas, sampai pada sultan Sambas ke-15 yaitu sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin (1931-1688). Kerajaan sambas sirna ketika sultan ke-15 wafat karena ditangkap dan di bunuh oleh tentara pendudukan jepang tahun 1943. Kekejaman facisme jepang meruntuhkan kejayaan Sambas.
Nama dan kejayaan Sambas sesungguhnya tidak hanya dimulai dari Sultan Muhammad Syafiuddin I ( 1631-1668 ). Sejak abad ke-13 masehi sudah ada kekuasaan raja-raja Sambas. Bermula dari kedatangan prajurit majapahit Paloh. Kemudian pusat kerajaan samabas berpindah ke kota lama teluk keramat. Dari kota lama pindah ke kota bangun di sungai sambas besar. Dari kota bangun pindah lagi ke kota Bandir dan kemudian Pindah lagi ke lubuk Madung. Konon menurut cerita, rombongan Raden Sulaiman pernah singgah di Tebas. Mereka sempat menebas daerah ini dan kemudian di tinggalkan. Dinamakanlah daerah itu tebas.
Barulah pada masa sultan sambas ke-2 yaitu Raden Bima gelar Sultan Muhammad Tajuddin (1668-1708) pusar Kesultanan Sambas dibangun di Muara Ulakan, di pertemuan 3 sungai yaitu sungai sambas kecil, sungai Subah dan sungai Tebarau. Sejak tahun 1668 Kota Sambas meliputi daerah Pemangkat, Singkawang, dan daerah Sambas Sendiri, yang kaya akan emas. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang berukuran sekitar 16.781 meter persegi membujur arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat beberapa buah bangunan, seperti dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, dua buah gerbang, dua puluh paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan inti keraton , dapur dan masjid Sultan.
Salah satu Bangunan bersejarah yang sampai saat ini sangat akrab dengan masyarakat Sambas, bernama lengkap Keraton Alwaziktubilllah Sambas. Bangunan Karaton menghadap kearah barat arah sungai. Lokasi berdirinya Keraton Alwakziktubillah Sambas, berada tepat di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, propinsi Kalimantan Barat. Ciri khusus untuk mengetahui lokasi keraton, yaitu berada dekat dipinggir sungai Sambas kecil dan Teberau yang dikenal masyarakat luas dengan nama Muare Ulakan (Desa Dalam Kaum). Lokasi yang menjadi saksi bisu berdirinya Keraton Alwaziktubillah ini, menyimpan sejarah yang cukup panjang tentang awal mula berdirinya. Keraton Sambas disebut juga Istana Alwazikhubillah. Istana Alwazikhubillah merupakan sebuah kerajaan atau dikanal dengan Negeri Sambas yang dipimpin oleh keluarga sultan.
            Kerajaan Sambas dibangun pada tahun1662 Masehi, yang dipimpin oleh seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad Syafiuddin, yang merupakan raja pertama yang memimpin kerajaan ini. Sedangkan untuk bangunan keraton itu sendiri, khususnya bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632. Sayangnya, bangunan keraton yang lama tersebut sudah dihancurkan dan dibangunlah bangunan keraton yang baru pada tahun 1933. Hasilnya, seperti yang terlihat sampai saat ini, baik yang terlihat dari luar maupun dalam bangunan keraton masih utuh seperti dahulu.
            Adapun pendeskriprian tempat-tempat dan peninggalan sejarah  yang termasuk dalam bagian keraton ini dapat dijabarkan berdasarkan hasil pengamatan secara langsung. Melakukan pengamatan secara langsung akan lebih menguatkan kembali bukti-bukti peninnggalan sejarah Kerajaan Alwazikhubillah. Tentunya, bangunan yang memiliki nilai sejarah yang berharga ini mempunyai aspek bangunan yang cukup luas untuk dideskripsikan. Pendeksripsian bisa dimulai dari luar bangunan istana.
            Lokasi keraton yamg berada di pinggiran sungai , dimana sarana transportasinya berupa perahu atau kapal, maka dibangunlah dermaga. Dermaga yang masih ada sampai saat ini, dulunya berfungsi sebagai tempat berlabuhnya perahu atau kapal sultan. Dermaga yang terletak didepan keraton ini dikenal dengan nama jembatan seteher.
            Dermaga unik ini, berdekatan dengan masjid yang  juga cukup bersejarah pada masa kerajaan, yaitu masjid Jami. Mesjid ini merupakan masjid yang berada tepat didepan halaman keraton. Selain itu, masjid jami juga dikenal sebagai masjid tertua yang memiliki arsitektur bangunan lama bernuansa Arabia dan kentalnya kebudayaan melayu.
            Selain bangunan yang berada di pinggiran sungai, diketahui juga bahwa, disekeliling tanah keraton merupakan daerah rawa-rawa dan mengelompok dibeberapa tempat yang terdapat juga makam keluarga sultan. Tepat didepan keraton, terdapat gerbang masuk menuju halaman keraton. Gerbang masuk dibuat bertingkat dua, dengan denahnya berbentuk segi delapan luasnya 76 meter persegi. Dibagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan tempat rakyat beristirahat dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur penjagaan.
            Gerbang masuk yang dibuat bertingkat tersebut, memiliki fungsi tersendiri, seperti yang telah dijelaskan  pada bagian bawah gerbang, bagian atas juga memiliki fungsi khusus. Fungsinya adalah tempat menabuhkan gamelan. Hal tersebut dilakukan, karena pada saat ada keramaian dikeraton, rakyat dapat mengetahuinya melalui bunyi tabuhan gamelan tersebut. Setelah melewati pintu gerbang, barulah memasuki area halaaman keraton.
            Ditengah halaman keraton terdapat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Empat batang tiang ini melambangkan empat pembantu sulta yang disebut wazir. Dibagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam dan salah satu diantaranaya bernama Si Gantar Alam.
Halaman keraton yang cukup luas, dahulunya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat jika ada suatu perayaan dikerajaan. Tidak jauh fungsinya dari jaman kerajaan, pada saat sekarang juga dimanfaat masyarakat sebagai tempat untuk berkumpul, khususnya pada kegiatan-kegiatan tertentu. Selain itu, menjadi tempat bermain yang menyenangkan bagi anak-anak.
            Sebelum memasuki bagian dalam atau ruang keraton, adalagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juaga terdiri dari dua dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Tentunya ukuran gerbang yang kedua ini lebih kecil daripada gerbang masuk yng pertama.
            Setelah melalui gerbang kedua dan pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Ketiga bangunan ini memiliki ruang-ruang khusus sebagai tempat kediaman sultan beserta keluarganya.
            Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada masa la,pau bangunan ini  berberfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama dengan bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat sultan bekerja. Pada bangunan ini disambungkan dengan bangunan keraton utama.
            Di bagian dalam bangunan tempat sultan bekerja, terdapat beberapa benda-benda pusaka. Benda pusaka tersebut diantaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan sultan, gong, tombak, paying kuning, dan meriam lele.  Meriam lele yang berjumlah tujuh buah ini dianggap barang keramat dan sering diziarahi penduduk.
            Bangunan utama keraton terdiri atas tujuh ruangan. Ketujuh ruangan tersebut yaitu balairung terletak dibagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan dan ruang khusus menjahit. Sekarang ruang-ruang tersebut masih ditempati oleh keturunan sultan, yang sekaligus menjaga benda-benda pusaka peninggalan kerajaan.
            Peninggalan benda pusaka, bisa dijumpai di balairung. Benda pusaka yang masih utuh dan terawatt diruang  ini, yaiti 3 buah cermin berukuran besar yang merupakan hadiah pemberiaan dari kerajaan Inggris. Selain cermin, terdapat juga dua pasu bunga berukuran besar yang berwarna kombinasi antara biru dan putih.
             Tidak kalah menarik dengan ruang balairung, didepan kamar tidur serta didalam kamar tidur sultan juga terdapat benda-benda pusaka yang menjadi bukti sejarah adanya kerajaan. Terdapat foto-foto sultan dan keluarga keluarga beserta peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan. Khusus  ruang tidur sultan, terdapaat kasur dan pakain sultan yang sampai saat ini masih terawatt dengan baik.
            Demikian, serangkain deskripsi tentang Keraton sambas. Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah ikut menjaga peninggalan sejarah yang ada. Hal tersebut sangat penting untuk dilakukan karena benda-benda tersebut akan memjadi bukti peradaban yang pernah terjadi dimasa lampau dan agar kita dapat melestarikan kebudayaan. Harapan terbesar kedepannya adalah Keraton Sambas ini tidak hanya menjadi tempat wisata untuk masyarakat lokal saja, akan tetapi bias dikenal luas secara nasional bahkan internasional. Meskipun sekarang tidak lagi terasa nuansa pemerintahan kerajaan, dan hanya bias merasakan dan melihat bukti nyata bahwa dulu memang ada sejarah tentang Karaton Sambas dengan adanya Istana Alwatzikoebillah.

Penulis ; Lusi Yusmayanti
NIM     ; 1022017046
           
           
             
                                                



Tidak ada komentar:

Posting Komentar