Kamis, 07 Februari 2019

keraton sambas (ayuni)


KHAZANAH SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SAMBAS
“ KERATON ALWAZIKTUBILLAH”



Berdirinya setiap daerah pasti memiliki cerita tersendiri yang pastinya sangat menarik untuk dibahas, termasuk daerah Sambas. Aspek  yang seringkali menjadi objek pembahasan adalah aspek sejarah dan kebudayaan. Kedua aspek ini melatarbelakangi adat dan kebiasaaan masyarakat setempat. Adanya bukti peninggalan sejarah semakin menguatkan kembali peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau dan tentunya akan menjadi bahan  pembahasan masyarakat serta penelitian ahli sejarah.  Untuk wilayah sambas sendiri, peninggalan sejarah yang tertkenal, yaitu Keraton Sambas.
            Bangunan bersejarah yang sampai saat ini sangat akrab dengan masyarakat Sambas, bernama lengkap Keraton Alwaziktubilllah Sambas. Tidak hanya masyarakat Sambas saja yang sering mengunjungi tempat bersejarah ini, tetapi juga dikenal luas oleh masyarakat diluar Kabupaten Sambas. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kunjungan wisata yang berasal dari luar daerah yang semakin ramai, khususnya, pada hari-hari libur nasional.
             Lokasi berdirinya Keraton Alwakziktubillah Sambas, berada tepat di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, propinsi Kalimantan Barat. Ciri khusus untuk mengetahui lokasi keraton, yaitu berada dekat dipinggir sungai Sambas kecil dan Teberau yang dikenal masyarakat luas dengan nama Muare Ulakan (Desa Dalam Kaum). Tidak hanya itu, lokasi keraton ini juga cukup  strategis, karena berada dekat dengan kantor dinas pemerintahan Kabupaten Sambas. Jadi, bangunan bersejarah ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan dijadikan sebagai bangunan bersejarah yang dilestarikan dan sebagai tempat wisata unggulan Kabupaten Sambas.
            Lokasi yang menjadi saksi bisu berdirinya Keraton Alwaziktubillah ini, menyimpan sejarah yang cukup panjang tentang awal mula berdirinya. Keraton Sambas disebut juga Istana Alwazikhubillah. Istana Alwazikhubillah merupakan sebuah kerajaan atau dikanal dengan Negeri Sambas yang dipimpin oleh keluarga sultan.
            Kerajaan Sambas dibangun pada tahun1662 Masehi, yang dipimpin oleh seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad Syafiuddin, yang merupakan raja pertama yang memimpin kerajaan ini. Sedangkan untuk bangunan keraton itu sendiri, khususnya bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632. Sayangnya, bangunan keraton yang lama tersebut sudah dihancurkan dan dibangunlah bangunan keraton yang baru pada tahun 1933. Hasilnya, seperti yang terlihat sampai saat ini, baik yang terlihat dari luar maupun dalam bangunan keraton masih utuh seperti dahulu.
            Adapun pendeskriprian tempat-tempat dan peninggalan sejarah  yang termasuk dalam bagian keraton ini dapat dijabarkan berdasarkan hasil pengamatan secara langsung. Melakukan pengamatan secara langsung akan lebih menguatkan kembali bukti-bukti peninnggalan sejarah Kerajaan Alwazikhubillah. Tentunya, bangunan yang memiliki nilai sejarah yang berharga ini mempunyai aspek bangunan yang cukup luas untuk dideskripsikan. Pendeksripsian bisa dimulai dari luar bangunan istana.
            Lokasi keraton yamg berada di pinggiran sungai , dimana sarana transportasinya berupa perahu atau kapal, maka dibangunlah dermaga. Dermaga yang masih ada sampai saat ini, dulunya berfungsi sebagai tempat berlabuhnya perahu atau kapal sultan. Dermaga yang terletak didepan keraton ini dikenal dengan nama jembatan seteher.
            Dermaga unik ini, berdekatan dengan masjid yang  juga cukup bersejarah pada masa kerajaan, yaitu masjid Jami. Mesjid ini merupakan masjid yang berada tepat didepan halaman keraton. Selain itu, masjid jami juga dikenal sebagai masjid tertua yang memiliki arsitektur bangunan lama bernuansa Arabia dan kentalnya kebudayaan melayu.
            Selain bangunan yang berada di pinggiran sungai, diketahui juga bahwa, disekeliling tanah keraton merupakan daerah rawa-rawa dan mengelompok dibeberapa tempat yang terdapat juga makam keluarga sultan. Tepat didepan keraton, terdapat gerbang masuk menuju halaman keraton. Gerbang masuk dibuat bertingkat dua, dengan denahnya berbentuk segi delapan luasnya 76 meter persegi. Dibagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan tempat rakyat beristirahat dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur penjagaan.
            Gerbang masuk yang dibuat bertingkat tersebut, memiliki fungsi tersendiri, seperti yang telah dijelaskan  pada bagian bawah gerbang, bagian atas juga memiliki fungsi khusus. Fungsinya adalah tempat menabuhkan gamelan. Hal tersebut dilakukan, karena pada saat ada keramaian dikeraton, rakyat dapat mengetahuinya melalui bunyi tabuhan gamelan tersebut. Setelah melewati pintu gerbang, barulah memasuki area halaaman keraton.
            Ditengah halaman keraton terdapat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Empat batang tiang ini melambangkan empat pembantu sulta yang disebut wazir. Dibagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam dan salah satu diantaranaya bernama Si Gantar Alam.
Halaman keraton yang cukup luas, dahulunya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat jika ada suatu perayaan dikerajaan. Tidak jauh fungsinya dari jaman kerajaan, pada saat sekarang juga dimanfaat masyarakat sebagai tempat untuk berkumpul, khususnya pada kegiatan-kegiatan tertentu. Selain itu, menjadi tempat bermain yang menyenangkan bagi anak-anak.
            Sebelum memasuki bagian dalam atau ruang keraton, adalagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juaga terdiri dari dua dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Tentunya ukuran gerbang yang kedua ini lebih kecil daripada gerbang masuk yng pertama.
            Setelah melalui gerbang kedua dan pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Ketiga bangunan ini memiliki ruang-ruang khusus sebagai tempat kediaman sultan beserta keluarganya.
            Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada masa la,pau bangunan ini  berberfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama dengan bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat sultan bekerja. Pada bangunan ini disambungkan dengan bangunan keraton utama.
            Di bagian dalam bangunan tempat sultan bekerja, terdapat beberapa benda-benda pusaka. Benda pusaka tersebut diantaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan sultan, gong, tombak, paying kuning, dan meriam lele.  Meriam lele yang berjumlah tujuh buah ini dianggap barang keramat dan sering diziarahi penduduk.
            Bangunan utama keraton terdiri atas tujuh ruangan. Ketujuh ruangan tersebut yaitu balairung terletak dibagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan dan ruang khusus menjahit. Sekarang ruang-ruang tersebut masih ditempati oleh keturunan sultan, yang sekaligus menjaga benda-benda pusaka peninggalan kerajaan.
            Peninggalan benda pusaka, bisa dijumpai di balairung. Benda pusaka yang masih utuh dan terawatt diruang  ini, yaiti 3 buah cermin berukuran besar yang merupakan hadiah pemberiaan dari kerajaan Inggris. Selain cermin, terdapat juga dua pasu bunga berukuran besar yang berwarna kombinasi antara biru dan putih.
             Tidak kalah menarik dengan ruang balairung, didepan kamar tidur serta didalam kamar tidur sultan juga terdapat benda-benda pusaka yang menjadi bukti sejarah adanya kerajaan. Terdapat foto-foto sultan dan keluarga keluarga beserta peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan. Khusus  ruang tidur sultan, terdapaat kasur dan pakain sultan yang sampai saat ini masih terawatt dengan baik.
            Demikian, serangkain deskripsi tentang Keraton sambas. Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah ikut menjaga peninggalan sejarah yang ada. Hal tersebut sangat penting untuk dilakukan karena benda-benda tersebut akan memjadi bukti peradaban yang pernah terjadi dimasa lampau dan agar kita dapat melestarikan kebudayaan. Harapan terbesar kedepannya adalah Keraton Sambas ini tidak hanya menjadi tempat wisata untuk masyarakat local saja, akan tetapi bias dikenal luas secara nasional bahkan internasional.
           
           
Penulis ; Ayuni
NIM     ; 102017009  
              
                                                 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar