KHAZANAH
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN SAMBAS
“
KERATON ALWAZIKTUBILLAH”
Berdirinya setiap daerah pasti memiliki cerita tersendiri yang pastinya
sangat menarik untuk dibahas, termasuk daerah Sambas. Aspek yang seringkali menjadi objek pembahasan
adalah aspek sejarah dan kebudayaan. Kedua aspek ini melatarbelakangi adat dan
kebiasaaan masyarakat setempat. Adanya bukti peninggalan sejarah semakin
menguatkan kembali peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau dan tentunya
akan menjadi bahan pembahasan masyarakat
serta penelitian ahli sejarah. Untuk
wilayah sambas sendiri, peninggalan sejarah yang tertkenal, yaitu Keraton
Sambas.
Bangunan bersejarah yang sampai saat
ini sangat akrab dengan masyarakat Sambas, bernama lengkap Keraton
Alwaziktubilllah Sambas. Tidak hanya masyarakat Sambas saja yang sering
mengunjungi tempat bersejarah ini, tetapi juga dikenal luas oleh masyarakat
diluar Kabupaten Sambas. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kunjungan wisata
yang berasal dari luar daerah yang semakin ramai, khususnya, pada hari-hari
libur nasional.
Lokasi berdirinya Keraton Alwakziktubillah
Sambas, berada tepat di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas,
propinsi Kalimantan Barat. Ciri khusus untuk mengetahui lokasi keraton, yaitu
berada dekat dipinggir sungai Sambas kecil dan Teberau yang dikenal masyarakat
luas dengan nama Muare Ulakan (Desa Dalam Kaum). Tidak hanya itu, lokasi
keraton ini juga cukup strategis, karena
berada dekat dengan kantor dinas pemerintahan Kabupaten Sambas. Jadi, bangunan
bersejarah ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan dijadikan sebagai
bangunan bersejarah yang dilestarikan dan sebagai tempat wisata unggulan
Kabupaten Sambas.
Lokasi yang menjadi saksi bisu
berdirinya Keraton Alwaziktubillah ini, menyimpan sejarah yang cukup panjang
tentang awal mula berdirinya. Keraton Sambas disebut juga Istana
Alwazikhubillah. Istana Alwazikhubillah merupakan sebuah kerajaan atau dikanal
dengan Negeri Sambas yang dipimpin oleh keluarga sultan.
Kerajaan Sambas dibangun pada
tahun1662 Masehi, yang dipimpin oleh seorang sultan, yaitu Sultan Muhammad
Syafiuddin, yang merupakan raja pertama yang memimpin kerajaan ini. Sedangkan
untuk bangunan keraton itu sendiri, khususnya bangunan keraton yang lama
dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632. Sayangnya, bangunan keraton yang
lama tersebut sudah dihancurkan dan dibangunlah bangunan keraton yang baru pada
tahun 1933. Hasilnya, seperti yang terlihat sampai saat ini, baik yang terlihat
dari luar maupun dalam bangunan keraton masih utuh seperti dahulu.
Adapun pendeskriprian tempat-tempat
dan peninggalan sejarah yang termasuk
dalam bagian keraton ini dapat dijabarkan berdasarkan hasil pengamatan secara
langsung. Melakukan pengamatan secara langsung akan lebih menguatkan kembali bukti-bukti
peninnggalan sejarah Kerajaan Alwazikhubillah. Tentunya, bangunan yang memiliki
nilai sejarah yang berharga ini mempunyai aspek bangunan yang cukup luas untuk
dideskripsikan. Pendeksripsian bisa dimulai dari luar bangunan istana.
Lokasi keraton yamg berada di
pinggiran sungai , dimana sarana transportasinya berupa perahu atau kapal, maka
dibangunlah dermaga. Dermaga yang masih ada sampai saat ini, dulunya berfungsi
sebagai tempat berlabuhnya perahu atau kapal sultan. Dermaga yang terletak
didepan keraton ini dikenal dengan nama jembatan seteher.
Dermaga unik ini, berdekatan dengan
masjid yang juga cukup bersejarah pada
masa kerajaan, yaitu masjid Jami. Mesjid ini merupakan masjid yang berada tepat
didepan halaman keraton. Selain itu, masjid jami juga dikenal sebagai masjid
tertua yang memiliki arsitektur bangunan lama bernuansa Arabia dan kentalnya
kebudayaan melayu.
Selain bangunan yang berada di
pinggiran sungai, diketahui juga bahwa, disekeliling tanah keraton merupakan
daerah rawa-rawa dan mengelompok dibeberapa tempat yang terdapat juga makam
keluarga sultan. Tepat didepan keraton, terdapat gerbang masuk menuju halaman
keraton. Gerbang masuk dibuat bertingkat dua, dengan denahnya berbentuk segi
delapan luasnya 76 meter persegi. Dibagian bawah digunakan untuk tempat penjaga
dan tempat rakyat beristirahat dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur
penjagaan.
Gerbang masuk yang dibuat bertingkat
tersebut, memiliki fungsi tersendiri, seperti yang telah dijelaskan pada bagian bawah gerbang, bagian atas juga
memiliki fungsi khusus. Fungsinya adalah tempat menabuhkan gamelan. Hal
tersebut dilakukan, karena pada saat ada keramaian dikeraton, rakyat dapat
mengetahuinya melalui bunyi tabuhan gamelan tersebut. Setelah melewati pintu
gerbang, barulah memasuki area halaaman keraton.
Ditengah halaman keraton terdapat
tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Empat batang tiang ini
melambangkan empat pembantu sulta yang disebut wazir. Dibagian bawah tiang
bendera terdapat dua pucuk meriam dan salah satu diantaranaya bernama Si Gantar
Alam.
Halaman keraton yang cukup luas, dahulunya dimanfaatkan sebagai tempat
berkumpulnya masyarakat jika ada suatu perayaan dikerajaan. Tidak jauh
fungsinya dari jaman kerajaan, pada saat sekarang juga dimanfaat masyarakat
sebagai tempat untuk berkumpul, khususnya pada kegiatan-kegiatan tertentu.
Selain itu, menjadi tempat bermain yang menyenangkan bagi anak-anak.
Sebelum memasuki bagian dalam atau
ruang keraton, adalagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juaga terdiri dari dua
dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Tentunya ukuran
gerbang yang kedua ini lebih kecil daripada gerbang masuk yng pertama.
Setelah melalui gerbang kedua dan
pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Di dalam kompleks keraton
terdapat tiga buah bangunan. Ketiga bangunan ini memiliki ruang-ruang khusus
sebagai tempat kediaman sultan beserta keluarganya.
Di sebelah kiri bangunan utama
terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada masa la,pau bangunan ini berberfungsi sebagai dapur dan tempat para
juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang
ukurannya sama dengan bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat
sultan bekerja. Pada bangunan ini disambungkan dengan bangunan keraton utama.
Di bagian dalam bangunan tempat
sultan bekerja, terdapat beberapa benda-benda pusaka. Benda pusaka tersebut
diantaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan sultan, gong, tombak,
paying kuning, dan meriam lele. Meriam
lele yang berjumlah tujuh buah ini dianggap barang keramat dan sering diziarahi
penduduk.
Bangunan utama keraton terdiri atas
tujuh ruangan. Ketujuh ruangan tersebut yaitu balairung terletak dibagian
depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak
sultan, ruang keluarga, ruang makan dan ruang khusus menjahit. Sekarang
ruang-ruang tersebut masih ditempati oleh keturunan sultan, yang sekaligus
menjaga benda-benda pusaka peninggalan kerajaan.
Peninggalan benda pusaka, bisa
dijumpai di balairung. Benda pusaka yang masih utuh dan terawatt diruang ini, yaiti 3 buah cermin berukuran besar yang
merupakan hadiah pemberiaan dari kerajaan Inggris. Selain cermin, terdapat juga
dua pasu bunga berukuran besar yang berwarna kombinasi antara biru dan putih.
Tidak kalah menarik dengan ruang balairung,
didepan kamar tidur serta didalam kamar tidur sultan juga terdapat benda-benda
pusaka yang menjadi bukti sejarah adanya kerajaan. Terdapat foto-foto sultan
dan keluarga keluarga beserta peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan.
Khusus ruang tidur sultan, terdapaat
kasur dan pakain sultan yang sampai saat ini masih terawatt dengan baik.
Demikian, serangkain deskripsi
tentang Keraton sambas. Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah ikut menjaga
peninggalan sejarah yang ada. Hal tersebut sangat penting untuk dilakukan
karena benda-benda tersebut akan memjadi bukti peradaban yang pernah terjadi
dimasa lampau dan agar kita dapat melestarikan kebudayaan. Harapan terbesar
kedepannya adalah Keraton Sambas ini tidak hanya menjadi tempat wisata untuk
masyarakat local saja, akan tetapi bias dikenal luas secara nasional bahkan
internasional.
Penulis ;
Ayuni
NIM ; 102017009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar