Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern
(Sebuah Telaah Sosiolinguistik)
Oleh Haries Pribady, S.Pd., M.Pd.
Aktivitas bersastra dalam bahasa ibu memiliki peran
strategis dalam pemertahanan, pengembangan, dan pertukaran budaya antargenerasi
atau antarkelompok. Effendy (2006:6) menyebutkan bahwa aktivitas bersastra merupakan satu fenomena sosial
kemasyarakatan. Ianya tidak berdiri sendiri melainkan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari aktivitas lainnya. Aktivitas bersastra dapat merupakan
bagian dari rangkaian upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pengobatan,
dan penanaman padi. Beberapa aktivitas bersastra juga tergambar dalam lagu-lagu daerah. Album
Terigas, sebagai sebuah contoh, merupakan kumpulan lagu daerah berbahasa Melayu
yang sanggup merepresentasikan aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan aransemen
yang tepat, lagu-lagu daerah dalam album Terigas tidak sekadar dinyanyikan
dalam upacara adat, melainkan juga dalam kegiatan sehari-hari. Tulisan ini
mengidentifikasi nilai-nilai sosial yang terkandung dalam lagu daerah dan
identifikasi makna pemertahanan bahasa yang dimilikinya. Tentu saja
penulis merunut pokok permasalahan yang muncul. Salah satu sebabnya, walaupun
dengan catatan tidak dengan mendiskreditkan fenomena yang ada, globalisasi
cukup bertanggung jawab.
Isu
globalisasi yang merupakan ciri abad 21 semakin intensif. Segala hal menjadi tanpa batas,
mulai dari ekonomi, politik, sosial, hingga kebudayaan. Fenomena globalisasi
adalah kabar baik. Batas-batas antarnegara diruntuhkan dengan semakin mudahnya
akses informasi dan transportasi, perkembangan semakin massif hingga
memunculkan banyaknya metropolitan baru, pakar sains dan teknologi berinovasi
tanpa henti menciptakan perangkat yang memudahkan kehidupan manusia, sistem
ekonomi saling terkait: keadaan ekonomi di satu negara bisa memengaruhi negara
lainnya. Selain itu, yang paling besar dampaknya adalah terjadinya interaksi
antarmasyarakat. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya pertukaran dan
transfer kebudayaan. Dengan demikian akan terjadi perubahan, walau tidak
signifikan dalam waktu singkat, pada komponen-komponennya. Satu di antaranya
yang ikut terpengaruh adalah komponen bahasa.
Interaksi
antarmasyarakat pengguna bahasa adalah yang lazim. Sebelum globalisasi mencuat
pada abad 21, interaksi ini lah yang mengakibatkan terjadinya perubahan
bahasa-bahasa di nusantara. Perubahan yang dimaksud dikategorikan ke dalam dua
hal, pertama adalah perubahan ke arah positif dan bersifat membangun. Kedua
adalah dampak negatif yang bersifat merusak bahasa dan penuturnya. Bertambahnya
kosakata, semakin mudahnya menamai sesuatu, hingga sebagai alat transfer
pengetahuan adalah perubahan positif yang diakibatkan oleh interaksi
antarmasyarakat pengguna bahasa yang berbeda. Terjadinya seleksi bahasa, penghilangan,
hingga munculnya anggapan bahwa bahasa ibu bernilai lebih rendah daripada
bahasa lain adalah beberapa perubahan negatif.
Sebagai
alat transfer kebudayaan dan sebagai komponen dari kebudayaan, bahasa, terutama
bahasa ibu perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini terutama menyangkut
perubahan-perubahan negatif akibat interaksi yang telah dipaparkan. Diawali
dengan kemampuan masyarakat menggunakan lebih dari satu bahasa dan berujung
pada seleksi bahasa, kemungkinan tersingkirnya bahasa lokal dari penggunaan
oleh penuturnya akan semakin besar.
Ketika
masyarakat sudah mengenal bahasa lain, selain dari bahasa ibunya, dan berada
dalam lingkungan yang jamak serta didukung oleh kebijakan politis untuk
melakukan seleksi bahasa, bahasa ibu yang pada saat semula merupakan bahasa
asli perlahan akan dilupakan. Hal ini dengan mudah diamati pada penggunaan
diksi penutur bahasa. Kosakata asli akan digantikan oleh kosakata lainnya yang
bisa dipahami oleh penutur bahasa lain. Pada tahap ini, penggantian (seleksi, pemilihan)
masih berada dalam tahap yang wajar. Namun akan mendatangkan masalah jika
fenomena tersebut berlanjut ke dalam komunitas penutur asli. Beberapa contohnya
yang bisa ditemukan dalam bahasa Melayu Sambas adalah sebagai berikut: kata suddok digantikan oleh sendok, kata capal digantikan oleh sandal,
kata selawar digantikan oleh celana, kata appan digantikan oleh panci,
kata tingkap digantikan oleh jendela, kata sondok digantikan oleh kunci
Beberapa
kata di atas adalah sebagai contoh terjadinya seleksi bahasa. Hal itu jika
terjadi terus menerus akan membahayakan bahasa ibu. Semakin lama penutur bahasa
Melayu Sambas cenderung menggunakan bahasa yang berafiliasi ke sistem bahasa
Indonesia walaupun dengan penyesuaian di beberapa bagian: khususnya dalam
bagian fonologi dengan mengganti fonem a
menjadi fonem e. Perubahan
bahasa atau pergeseran pola berbahasa terjadi secara lambat dan dalam waktu
yang sangat panjang. Pergeserannya tidak serta merta teramati. Perubahan
bahasa, teramati pada hilangnya bunyi pada satuan lingual, perubahan struktur
fonem dalam satu kata atau struktur split. Perubahan dalam tubuh bahasa disebut
perubahan internal. Selain perubahan internal, terdapat juga perubahan eksternal.
Perubahan jenis ini diakibatkan oleh masuknya unsur-unsur bahasa lain ke tubuh
bahasa tersebut. Misalnya, peminjaman kosakata dari bahasa lain untuk memenuhi
kebutuhan bahasa tersebut. Berdasar pemaparan tersebut dapat dipahami bahwa
ranah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik akan mengalami perubahan
secara perlahan.
Perlu
dilakukan suatu upaya agar bahasa ibu tetap digunakan di masyarakat: beserta
sistemnya dalam bentuk dan komposisi yang asli. Upaya itu lazim dinamai dengan
pemertahanan bahasa. Sebagai usaha agar
bahasa setempat tidak terkikis oleh peristiwa pergeseran bahasa atau proses
multilingual, maka pemertahanan bahasa perlu dilakukan. Namun bisa saja bahasa
pertama tetap dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan bahasa kedua apabila penutur
bahasa pertama konsisten dan mempertahankan keberadaannya. Upaya untuk mempertahankan bahasa bukanlah
perkara mudah. Apalagi didukung oleh mobilitas penutur yang tinggi sehingga
menyebabkan terjadinya interaksi yang intensif,
menjadikan hal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.
Pelbagai
upaya dilakukan dalam upaya pemertahanan bahasa. Studi yang intensif dan
berkelanjutan adalah satu di antaranya. Berkaitan dengan hal ini, Wijana
(2012:89) mengungkapkan, Pemeliharaan bahasa tidak cukup hanya dengan usaha
mendeskripsikan sistem kebahasaan dan wilayah pemakainya, seperti yang
dilakukan oleh pemakai bahasa selama ini. Namun yang tidak kalah penting adalah
penumbuhan rasa bangga dalam diri penutur untuk menggunakan bahasanya.
Kebanggaan berbahasa (linguistic pride)
di samping kesadaran terhadap norma (awareness
of norm) merupakan faktor yang
amat penting bagi keberhasilan usaha pemertahanan bahasa. Kebanggaan linguistik
dapat dibangkitkan dari kekhasan-kekhasan yang dimiliki oleh bahasa itu.
Upaya
pemertahanan bahasa mesti didasari oleh hal-hal yang substantif. Dengan
demikian upaya yang dilakukan akan memiliki manfaat dan berpotensi meningkatkan
prestise sebuah bahasa di kalangan penuturnya. Satu di antara hal substantif
yang dimiliki oleh sebuah bahasa, yang dalam ini tergambar melalui lagu daerah
adalah nilai-nilai sosial yang dikandungnya. Dengan mengacu pada pemikiran umum
bahwa suatu hasil kebudayaan merupakan refleksi dan cita-cita luhur sekelompok
masyarakat, maka nilai-nilai sosial yang ada di dalam lagu perlu diuraikan
untuk mendukung upaya pemertahanan bahasa tersebut.
Nilai sosial bukan
sekadar takaran baik dan buruknya suatu perbuatan dalam pandangan masyarakat.
Ianya mencakup bentuk penghormatan terhadap segala hal yang dianggap penting,
luhur, dan memiliki manfaat bagi masyarakat. Nilai sosial memiliki autoritas
untuk mengarahkan perilaku anggota masyarakat agar tertib dan memenuhi kepuasan
bersama. Dengan demikian nilai sosial akan selalu dijunjung tinggi dan
dipelihara agar tercapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Nilai sosial
memiliki peran nyata dalam kehidupan masyarakat. Membentuk stratifikasi
sosial, pendorong agar tiap individu
berbuat baik, memberi semangat, hingga menjadi alat penguat solidaritas agar
masyarakat saling bekerja sama dalam mencapai cita-citanya.
Berkaitan dengan
hal yang telah dipaparkan, lagu daerah yang telah bertahan antargenerasi dalam
waktu yang cukup panjang dianggap memiliki atau mengandung nilai-nilai
tersebut. Pemeliharaan lagu menunjukkan bahwa ada satu hal yang penting yang
terkandung di dalamnya dan hal ini akan berimbas pada pemertahanan bahasa.
Dengan kata lain, pemelihaaraan lagu daerah yang diakibatkan oleh nilai-nilai
sosial yang dimilikinya dan pemertahanan bahasa yang digunakan dalam lagu
daerah adalah dua hal yang berjalan beriringan.
Adapun beberapa
nilai sosial yang terungkap dalam lagu-lagu daerah Sambas dipaparkan sebagai
berikut. Pertama, nilai religius. Sebagai
sebuah daerah yang didominasi oleh penduduk yang beragama Islam, masyarakat Kabupaten Sambas meletakkan nilai
religius pada urutan yang pertama. Nilai religius ini tidak sekadar menjadi
sesuatu yang melekat di luar, namun telah terinternalisasi ke dalam setiap
aktivitas masyarakat. Setiap perkara selalu dikaitkan dengan nilai-nilai
religi. Bahkan dalam setiap acara adat pun, sisi-sisi keagamaan selalu tampak
melalui pembacaan bismillah atau
pun pembacaan selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Nilai religius ini juga
membentuk norma tak tertulis di masyarakat. Sebagai sebuah contoh, bagaimana
seharusnya pergaulan antara laki-laki dengan perempuan dan bagaimana sikap
seorang Melayu dalam menjalankan kewajiban beragamanya. Nilai religius yang terdapat di dalam lagu adalah hal yang sangat
menarik. Dengan demikian si penutur bahasa akan mendapatkan banyak hal ketika
mereka akrab dengan lagu daerah. Dengan sikap positif terhadap lagu, masyarakat
Melayu akan membiasakan diri tetap berbahasa Melayu sekaligus memeroleh
nilai-nilai religius yang terdapat di dalamnya. Kedua, nilai etos dan kerja sama. Sambas
merupakan wilayah agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai
petani. Dengan menerapkan sistem tadah
hujan, hasil panen sepenuhnya bergantung pada musim. Drainase persawahan tidak
dimanajemen dengan baik sehingga beberapa tahun terakhir kerap kali terjadi
gagal panen di beberapa kecamatan. Beraktivitas sebagai petani membentuk suatu
pola hidup yang unik bagi masyarakat Melayu. Pasalnya banyak sekali
aktivitas itu yang mengharuskan mereka
hidup secara komunal dan melakukannya secara bersama. Bukan berarti masyarakat
Melayu tidak mampu berdikari, namun sistem sosial yang disepakati adalah
demikian adanya. Ketiga, nilai sejarah dan budaya.
Sambas bukan saja sebuah kabupaten yang berdiri secara
administratif. Pada mulanya ia merupakan sebuah kerajaan Hindu yang berada
dalam naungan kekuasaan Majapahit. Sejak Majapahit runtuh, Sambas dipimpin oleh
raja-raja Melayu yang beragama Islam dan mencapai puncak kejayaannya di bawah
pimpinan Sultan Muhammad Tsafiuddin.
Perpaduan Hindu dan Islam pada masa lampau menciptakan suasana kultural
yang unik dalam masyarakat Melayu. Keunikan ini tampak pada lagu-lagu yang
bertemakan legenda, sejarah, hingga kepercayaan terhadap benda-benda alam. Kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme tidak sepenuhnya
dihilangkan walau sebagian besar masyarakat Melayu telah beragama Islam. Hal
ini ditunjukkan oleh banyaknya mantra-mantra yang tersebar di masyarakat dan
hingga saat ini masih digunakan dan tetap terpelihara.
Terungkapnya nilai-nilai
sosial dalam lagu daerah menunjukkan bahwa ianya memiliki sesuatu yang patut
dilestarikan. Pelestarian ini pun berkorelasi positif terhadap pemertahanan
bahasa Melayu. Selain nilai sosial, pada bagian ini akan diuraikan pelbagai
makna pemertahanan bahasa melalui lagu daerah. Pertama, bahasa sebagai identitas kesukuan.
Identitas kesukuan kerap kali disalahartikan dengan primordialisme,
suatu pandangan yang menganggap rendah kelompok lain. Hal ini diakibatkan oleh
tindakan anarkis yang dilakukan oleh sebagian oknum. Primordialisme ini bisa berujung pada
pertikaian antarkelompok. Hal ini lah yang harus dihindarkan. Penyadaran
identitas kesukuan pada hakikatnya adalah sebuah upaya agar masyarakat tetap
berada dalam jalur yang dicita-citakan. Penyadaran identitas kesukuan bisa
diwujudkan dalam pelbagai bentuk. Bentuk yang mampu bertahan dan ditransmisikan
antargenerasi satu diantaranya adalah lagu daerah. Ianya selalu dinyanyikan dan
memiliki kemampuan untuk merepresentasikan kehidupan masyarakat dengan sangat
baik.
Kedua, sebagai pelestari bahasa
daerah. BMDS
tidak saja digunakan oleh masyarakat Melayu, ianya juga digunakan sebagai
bahasa pengantar dalam masyarakat. Maksudnya adalah BMDS juga digunakan oleh
masyarakat non-Melayu ketika berinteraksi dengan suku-suku lainnya.
Melestarikan lagu-lagu daerah tentu akan berdampak pada pemertahanan bahasa.
Untuk memahami makna yang terdapat di dalam lagu dibutuhkan kemampuan berbahasa
yang mendalam. Dengan demikian pemaknaan dan pelestarian lagu daerah akan
mendorong masyarakat untuk terus menggunakan bahasa daerah.
Ketiga, pembentuk sikap dan perilaku hidup
bermasyarakat. Lagu daerah,
berdasar pemaparan yang telah diberikan, tidak sekadar bernilai estetika
(hiburan). Lebih daripada itu, ianya mampu memberi panduan bagi masyarakat
untuk bersikap. Lagu daerah mengandung banyak sekali nasihat, pandangan hidup,
dan perkara-perkara lain yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Ianya
memiliki nilai-nilai sosial yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai sosial tersebut merupakan cita-cita bersama yang direfleksikan dalam
sebuah lagu yang indah.
Lagu daerah adalah satu komponen kebudayaan yang masih dilestarikan
hingga saat ini. Selain memiliki sifat estetis, ianya juga mengandung
nilai-nilai sosial yang selalu dijunjung dan dijadikan cita-cita bersama
sekelompok masyarakat. Pelestarian lagu daerah akan berdampak positif terhadap
upaya pemertahanan bahasa. Semakin intensif pelestarian dan pengkajian terhadap
lagu daerah, semakin intensif pula upaya pemertahanan bahasa.
Bahan Bacaan
Effendy, Chairil. 2006. Sastra
sebagai Wadah Integrasi Budaya. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Merti, Ni Made. 2010. “Pemertahanan Bahasa Bali dalam Masyarakat
Multikultural di Kota Denpasar. (Tesis). Universitas Udayana Denpasar.
Muhammad. 2011. Metode
Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Arruzz Media.
Nurhayati, Endang. “Model Pemertahanan Bahasa Jawa Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta”. Artikel Ilmiah
Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Negeri Yogyakarta.
Pribady, H. (2006). Peran Lagu Daerah Terhadap
Pemertahanan Bahasa Melayu Dialek Sambas. SNBI IX Universitas Udayana Bali.
Pribady, H., Hanye, P., & Susilo, F. Kosakata
Bercocok Tanam Padi di Sawah dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas: Kajian
Semantik. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 3(9).
Pribady, H. (2017). Local Literature Revitalization
In Order To Malay Language Endurance. ADRI International Journal Of
Language, Literature and Culture, 1(1).
Pribady, H., & Saman, S. Aspektualitas Bahasa
Melayu Dialek Sambas. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 6(6).
Rizqi, M. A., & Pribady, H. (2017). A Critical
Analysis of Teaching Language Learning Strategies to University in Indonesia. JP-BSI
(Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 2(1), 31-35.
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik.
Yogyakarta: Sabda.
Wijana, I Dewa Putu. 2012. Sosiolinguistik:
Kajian Teori dan Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar