Senin, 07 Januari 2019

RESENSI (DEVI)


Urgensi Bahasa Ibu di Era Modern
(Sebuah Telaah Sosiolinguistik)

Oleh Haries Pribady, S.Pd., M.Pd.

Aktivitas bersastra dalam bahasa ibu memiliki peran strategis dalam pemertahanan, pengembangan, dan pertukaran budaya antargenerasi atau antarkelompok. Effendy (2006:6) menyebutkan bahwa aktivitas bersastra  merupakan satu fenomena sosial kemasyarakatan. Ianya tidak berdiri sendiri melainkan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas lainnya. Aktivitas bersastra dapat merupakan bagian dari rangkaian upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pengobatan, dan penanaman padi. Beberapa aktivitas bersastra  juga tergambar dalam lagu-lagu daerah. Album Terigas, sebagai sebuah contoh, merupakan kumpulan lagu daerah berbahasa Melayu yang sanggup merepresentasikan aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan aransemen yang tepat, lagu-lagu daerah dalam album Terigas tidak sekadar dinyanyikan dalam upacara adat, melainkan juga dalam kegiatan sehari-hari. Tulisan ini mengidentifikasi nilai-nilai sosial yang terkandung dalam lagu daerah dan identifikasi makna pemertahanan bahasa yang dimilikinya. Tentu saja penulis merunut pokok permasalahan yang muncul. Salah satu sebabnya, walaupun dengan catatan tidak dengan mendiskreditkan fenomena yang ada, globalisasi cukup bertanggung jawab.
Isu globalisasi yang merupakan ciri abad 21 semakin intensif. Segala hal menjadi tanpa batas, mulai dari ekonomi, politik, sosial, hingga kebudayaan. Fenomena globalisasi adalah kabar baik. Batas-batas antarnegara diruntuhkan dengan semakin mudahnya akses informasi dan transportasi, perkembangan semakin massif hingga memunculkan banyaknya metropolitan baru, pakar sains dan teknologi berinovasi tanpa henti menciptakan perangkat yang memudahkan kehidupan manusia, sistem ekonomi saling terkait: keadaan ekonomi di satu negara bisa memengaruhi negara lainnya. Selain itu, yang paling besar dampaknya adalah terjadinya interaksi antarmasyarakat. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya pertukaran dan transfer kebudayaan. Dengan demikian akan terjadi perubahan, walau tidak signifikan dalam waktu singkat, pada komponen-komponennya. Satu di antaranya yang ikut terpengaruh adalah komponen bahasa.
Interaksi antarmasyarakat pengguna bahasa adalah yang lazim. Sebelum globalisasi mencuat pada abad 21, interaksi ini lah yang mengakibatkan terjadinya perubahan bahasa-bahasa di nusantara. Perubahan yang dimaksud dikategorikan ke dalam dua hal, pertama adalah perubahan ke arah positif dan bersifat membangun. Kedua adalah dampak negatif yang bersifat merusak bahasa dan penuturnya. Bertambahnya kosakata, semakin mudahnya menamai sesuatu, hingga sebagai alat transfer pengetahuan adalah perubahan positif yang diakibatkan oleh interaksi antarmasyarakat pengguna bahasa yang berbeda. Terjadinya seleksi bahasa, penghilangan, hingga munculnya anggapan bahwa bahasa ibu bernilai lebih rendah daripada bahasa lain adalah beberapa perubahan negatif.
Sebagai alat transfer kebudayaan dan sebagai komponen dari kebudayaan, bahasa, terutama bahasa ibu perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini terutama menyangkut perubahan-perubahan negatif akibat interaksi yang telah dipaparkan. Diawali dengan kemampuan masyarakat menggunakan lebih dari satu bahasa dan berujung pada seleksi bahasa, kemungkinan tersingkirnya bahasa lokal dari penggunaan oleh penuturnya akan semakin besar.
Ketika masyarakat sudah mengenal bahasa lain, selain dari bahasa ibunya, dan berada dalam lingkungan yang jamak serta didukung oleh kebijakan politis untuk melakukan seleksi bahasa, bahasa ibu yang pada saat semula merupakan bahasa asli perlahan akan dilupakan. Hal ini dengan mudah diamati pada penggunaan diksi penutur bahasa. Kosakata asli akan digantikan oleh kosakata lainnya yang bisa dipahami oleh penutur bahasa lain. Pada tahap ini, penggantian (seleksi, pemilihan) masih berada dalam tahap yang wajar. Namun akan mendatangkan masalah jika fenomena tersebut berlanjut ke dalam komunitas penutur asli. Beberapa contohnya yang bisa ditemukan dalam bahasa Melayu Sambas adalah sebagai berikut: kata suddok digantikan oleh sendok, kata capal digantikan oleh sandal, kata selawar digantikan oleh celana, kata appan digantikan oleh panci, kata tingkap digantikan oleh jendela, kata sondok digantikan oleh kunci
Beberapa kata di atas adalah sebagai contoh terjadinya seleksi bahasa. Hal itu jika terjadi terus menerus akan membahayakan bahasa ibu. Semakin lama penutur bahasa Melayu Sambas cenderung menggunakan bahasa yang berafiliasi ke sistem bahasa Indonesia walaupun dengan penyesuaian di beberapa bagian: khususnya dalam bagian fonologi dengan mengganti fonem a menjadi fonem e. Perubahan bahasa atau pergeseran pola berbahasa terjadi secara lambat dan dalam waktu yang sangat panjang. Pergeserannya tidak serta merta teramati. Perubahan bahasa, teramati pada hilangnya bunyi pada satuan lingual, perubahan struktur fonem dalam satu kata atau struktur split. Perubahan dalam tubuh bahasa disebut perubahan internal. Selain perubahan internal, terdapat juga perubahan eksternal. Perubahan jenis ini diakibatkan oleh masuknya unsur-unsur bahasa lain ke tubuh bahasa tersebut. Misalnya, peminjaman kosakata dari bahasa lain untuk memenuhi kebutuhan bahasa tersebut. Berdasar pemaparan tersebut dapat dipahami bahwa ranah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik akan mengalami perubahan secara perlahan.
Perlu dilakukan suatu upaya agar bahasa ibu tetap digunakan di masyarakat: beserta sistemnya dalam bentuk dan komposisi yang asli. Upaya itu lazim dinamai dengan pemertahanan bahasa.  Sebagai usaha agar bahasa setempat tidak terkikis oleh peristiwa pergeseran bahasa atau proses multilingual, maka pemertahanan bahasa perlu dilakukan. Namun bisa saja bahasa pertama tetap dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan bahasa kedua apabila penutur bahasa pertama konsisten dan mempertahankan keberadaannya.  Upaya untuk mempertahankan bahasa bukanlah perkara mudah. Apalagi didukung oleh mobilitas penutur yang tinggi sehingga menyebabkan terjadinya interaksi yang intensif,  menjadikan hal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.
Pelbagai upaya dilakukan dalam upaya pemertahanan bahasa. Studi yang intensif dan berkelanjutan adalah satu di antaranya. Berkaitan dengan hal ini, Wijana (2012:89) mengungkapkan, Pemeliharaan bahasa tidak cukup hanya dengan usaha mendeskripsikan sistem kebahasaan dan wilayah pemakainya, seperti yang dilakukan oleh pemakai bahasa selama ini. Namun yang tidak kalah penting adalah penumbuhan rasa bangga dalam diri penutur untuk menggunakan bahasanya. Kebanggaan berbahasa (linguistic pride) di samping kesadaran terhadap norma (awareness of norm)  merupakan faktor yang amat penting bagi keberhasilan usaha pemertahanan bahasa. Kebanggaan linguistik dapat dibangkitkan dari kekhasan-kekhasan yang dimiliki oleh bahasa itu. 
Upaya pemertahanan bahasa mesti didasari oleh hal-hal yang substantif. Dengan demikian upaya yang dilakukan akan memiliki manfaat dan berpotensi meningkatkan prestise sebuah bahasa di kalangan penuturnya. Satu di antara hal substantif yang dimiliki oleh sebuah bahasa, yang dalam ini tergambar melalui lagu daerah adalah nilai-nilai sosial yang dikandungnya. Dengan mengacu pada pemikiran umum bahwa suatu hasil kebudayaan merupakan refleksi dan cita-cita luhur sekelompok masyarakat, maka nilai-nilai sosial yang ada di dalam lagu perlu diuraikan untuk mendukung upaya pemertahanan bahasa tersebut.
            Nilai sosial bukan sekadar takaran baik dan buruknya suatu perbuatan dalam pandangan masyarakat. Ianya mencakup bentuk penghormatan terhadap segala hal yang dianggap penting, luhur, dan memiliki manfaat bagi masyarakat. Nilai sosial memiliki autoritas untuk mengarahkan perilaku anggota masyarakat agar tertib dan memenuhi kepuasan bersama. Dengan demikian nilai sosial akan selalu dijunjung tinggi dan dipelihara agar tercapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Nilai sosial memiliki peran nyata dalam kehidupan masyarakat. Membentuk stratifikasi sosial,  pendorong agar tiap individu berbuat baik, memberi semangat, hingga menjadi alat penguat solidaritas agar masyarakat saling bekerja sama dalam mencapai cita-citanya.
            Berkaitan dengan hal yang telah dipaparkan, lagu daerah yang telah bertahan antargenerasi dalam waktu yang cukup panjang dianggap memiliki atau mengandung nilai-nilai tersebut. Pemeliharaan lagu menunjukkan bahwa ada satu hal yang penting yang terkandung di dalamnya dan hal ini akan berimbas pada pemertahanan bahasa. Dengan kata lain, pemelihaaraan lagu daerah yang diakibatkan oleh nilai-nilai sosial yang dimilikinya dan pemertahanan bahasa yang digunakan dalam lagu daerah adalah dua hal yang berjalan beriringan.
            Adapun beberapa nilai sosial yang terungkap dalam lagu-lagu daerah Sambas dipaparkan sebagai berikut. Pertama, nilai religius. Sebagai sebuah daerah yang didominasi oleh penduduk yang beragama Islam,  masyarakat Kabupaten Sambas meletakkan nilai religius pada urutan yang pertama. Nilai religius ini tidak sekadar menjadi sesuatu yang melekat di luar, namun telah terinternalisasi ke dalam setiap aktivitas masyarakat. Setiap perkara selalu dikaitkan dengan nilai-nilai religi. Bahkan dalam setiap acara adat pun, sisi-sisi keagamaan selalu tampak melalui pembacaan bismillah atau pun pembacaan selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Nilai religius ini juga membentuk norma tak tertulis di masyarakat. Sebagai sebuah contoh, bagaimana seharusnya pergaulan antara laki-laki dengan perempuan dan bagaimana sikap seorang Melayu dalam menjalankan kewajiban beragamanya. Nilai  religius yang terdapat di dalam lagu adalah hal yang sangat menarik. Dengan demikian si penutur bahasa akan mendapatkan banyak hal ketika mereka akrab dengan lagu daerah. Dengan sikap positif terhadap lagu, masyarakat Melayu akan membiasakan diri tetap berbahasa Melayu sekaligus memeroleh nilai-nilai religius yang terdapat di dalamnya. Kedua, nilai etos dan kerja sama.  Sambas merupakan wilayah agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani.  Dengan menerapkan sistem tadah hujan, hasil panen sepenuhnya bergantung pada musim. Drainase persawahan tidak dimanajemen dengan baik sehingga beberapa tahun terakhir kerap kali terjadi gagal panen di beberapa kecamatan. Beraktivitas sebagai petani membentuk suatu pola hidup yang unik bagi masyarakat Melayu. Pasalnya banyak sekali aktivitas  itu yang mengharuskan mereka hidup secara komunal dan melakukannya secara bersama. Bukan berarti masyarakat Melayu tidak mampu berdikari, namun sistem sosial yang disepakati adalah demikian adanya. Ketiga, nilai sejarah dan budaya.  Sambas bukan saja sebuah kabupaten yang berdiri secara administratif. Pada mulanya ia merupakan sebuah kerajaan Hindu yang berada dalam naungan kekuasaan Majapahit. Sejak Majapahit runtuh, Sambas dipimpin oleh raja-raja Melayu yang beragama Islam dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Muhammad Tsafiuddin.  Perpaduan Hindu dan Islam pada masa lampau menciptakan suasana kultural yang unik dalam masyarakat Melayu. Keunikan ini tampak pada lagu-lagu yang bertemakan legenda, sejarah, hingga kepercayaan terhadap benda-benda alam.  Kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme tidak sepenuhnya dihilangkan walau sebagian besar masyarakat Melayu telah beragama Islam. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya mantra-mantra yang tersebar di masyarakat dan hingga saat ini masih digunakan dan tetap terpelihara.
Terungkapnya  nilai-nilai sosial dalam lagu daerah menunjukkan bahwa ianya memiliki sesuatu yang patut dilestarikan. Pelestarian ini pun berkorelasi positif terhadap pemertahanan bahasa Melayu. Selain nilai sosial, pada bagian ini akan diuraikan pelbagai makna pemertahanan bahasa melalui lagu daerah. Pertama, bahasa sebagai identitas kesukuan. Identitas kesukuan kerap kali disalahartikan dengan primordialisme, suatu pandangan yang menganggap rendah kelompok lain. Hal ini diakibatkan oleh tindakan anarkis yang dilakukan oleh sebagian oknum.  Primordialisme ini bisa berujung pada pertikaian antarkelompok. Hal ini lah yang harus dihindarkan. Penyadaran identitas kesukuan pada hakikatnya adalah sebuah upaya agar masyarakat tetap berada dalam jalur yang dicita-citakan. Penyadaran identitas kesukuan bisa diwujudkan dalam pelbagai bentuk. Bentuk yang mampu bertahan dan ditransmisikan antargenerasi satu diantaranya adalah lagu daerah. Ianya selalu dinyanyikan dan memiliki kemampuan untuk merepresentasikan kehidupan masyarakat dengan sangat baik.
Kedua, sebagai pelestari bahasa daerah.  BMDS tidak saja digunakan oleh masyarakat Melayu, ianya juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam masyarakat. Maksudnya adalah BMDS juga digunakan oleh masyarakat non-Melayu ketika berinteraksi dengan suku-suku lainnya. Melestarikan lagu-lagu daerah tentu akan berdampak pada pemertahanan bahasa. Untuk memahami makna yang terdapat di dalam lagu dibutuhkan kemampuan berbahasa yang mendalam. Dengan demikian pemaknaan dan pelestarian lagu daerah akan mendorong masyarakat untuk terus menggunakan bahasa daerah.
Ketiga, pembentuk sikap dan perilaku hidup bermasyarakat. Lagu daerah, berdasar pemaparan yang telah diberikan, tidak sekadar bernilai estetika (hiburan). Lebih daripada itu, ianya mampu memberi panduan bagi masyarakat untuk bersikap. Lagu daerah mengandung banyak sekali nasihat, pandangan hidup, dan perkara-perkara lain yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Ianya memiliki nilai-nilai sosial yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai sosial tersebut merupakan cita-cita bersama yang direfleksikan dalam sebuah lagu yang indah.
Lagu daerah adalah satu komponen kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Selain memiliki sifat estetis, ianya juga mengandung nilai-nilai sosial yang selalu dijunjung dan dijadikan cita-cita bersama sekelompok masyarakat. Pelestarian lagu daerah akan berdampak positif terhadap upaya pemertahanan bahasa. Semakin intensif pelestarian dan pengkajian terhadap lagu daerah, semakin intensif pula upaya pemertahanan bahasa.

Bahan Bacaan
Effendy, Chairil. 2006. Sastra sebagai Wadah Integrasi Budaya. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Merti, Ni Made. 2010. “Pemertahanan Bahasa Bali dalam Masyarakat Multikultural di Kota Denpasar. (Tesis). Universitas Udayana Denpasar.
Muhammad. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Arruzz Media.
Nurhayati, Endang. “Model Pemertahanan Bahasa Jawa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Artikel Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Negeri Yogyakarta.
Pribady, H. (2006). Peran Lagu Daerah Terhadap Pemertahanan Bahasa Melayu Dialek Sambas. SNBI IX Universitas Udayana Bali.
Pribady, H., Hanye, P., & Susilo, F. Kosakata Bercocok Tanam Padi di Sawah dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas: Kajian Semantik. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 3(9).
Pribady, H. (2017). Local Literature Revitalization In Order To Malay Language Endurance. ADRI International Journal Of Language, Literature and Culture, 1(1).
Pribady, H., & Saman, S. Aspektualitas Bahasa Melayu Dialek Sambas. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 6(6).
Rizqi, M. A., & Pribady, H. (2017). A Critical Analysis of Teaching Language Learning Strategies to University in Indonesia. JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 2(1), 31-35.
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda.
Wijana, I Dewa Putu. 2012. Sosiolinguistik: Kajian Teori dan Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar