Senin, 21 Januari 2019

sejarah keraton sambas(nur elisa)




SEJARAH KERATON KOTA  SAMBAS
Pada hari sabtu sepeulang dari kuliah saya dan teman teman pergi ke keraton untuk mengobservasikan tentang sejarah keraton sambas pada saat itu ramai pengunjung yang datang sambil menikmati detik detik tenggelam nya matahari tak lupa juga berfoto foto.
Keraton-sambas adalah Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas terletak di sebuah kota kecil yang sekarang dikenal dengan nama Sambas tepat nya lagi di Desa Dalam Kaum sambas. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang berukuran sekitar 16.781 meter persegi membujur arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat beberapa buah bangunan, yaitu dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, dua buah gerbang, dua buah paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan inti keraton (balairung), dapur, dan masjid sultan dan sekarang bnyak bangunan yang kurang memadai lagi seperti dermaga tempat dimana perahu singgah di karenakan bangunan nya goyang dan saat ini masih belum di prbaiki tetapi Masih bnyak pengunjung yang tertarik untuk menikmati kota sambas melalui perau tersebut untuk merasakan ke indahan sungai sambas.
Bangunan keraton menghadap ke arah barat ke arah sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat Sungau Sambas Kecil, ke arah selatan terdapat Sungai Teberau dan  sungai subah , lokasi 3 persimpangan inilah  yang di sebut MUARA ULAKKAN.
Di sekeliling tanah keraton merupakan daerah rawa-rawa dan mengelompok di beberapa tempat terdapat makam keluarga sultan. Bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632 (sekarang telah dihancurkan), sedangkan keraton yang masih berdiri sekarang dibangun pada tahun 1933. Sebagai sebuah keraton di tepian sungai, di mana sarana transportasinya perahu/ kapal, tentunya di tepian sungai dibangun dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar. Dermaga yang terletak di depan keraton dikenal dengan nama jembatan Seteher. Jembatan ini menjorok ke tengah sungai. Dari dermaga ini ada jalan yang menuju keraton dan melewati gerbang masuk untuk menuju keraton sambas. Gerbang masuk yang menuju halaman keraton dibuat bertingkat dua dengan denahnya berbentuk segi delapan Bagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan tempat beristirahat bagi rakyat yang hendak menghadap sultan, dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur penjagaan. Selain itu, bagian atas pada saat-saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan agar rakyat seluruh kota dapat mendengar kalau ada keramaian di keraton.
Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan, di tengah halaman keraton dapat dilihat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan tiang penyangganya melambangkan empat pembantu sultan yang disebut wazir. Di bagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam, dan salah satu di antaranya bernama Si Gantar Alam.
Sebelum memasuki keraton, dari halaman yang ada tiang benderanya, kita harus melalui lagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juga terdiri dari dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Lantai bawah tempat para penjaga yang bertugas selama 24 jam, sedangkan lantai atas dipakai untuk keluarga sultan beristirahat sambil menyaksikan aktivitas kehidupan rakyatnya sehari-hari. Setelah melalui gerbang kedua dan pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton.
Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan. Pada masa lampau bangunan ini berfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama seperti bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Sultan dan pembantunya bekerja. Dari bangunan tempat Sultan bekerja dan bangunan utama keraton dihubungkan dengan koridor beratap dan sekarang di gunakan untuk jualan khususnya makanan khas sambas yaitu bubur pedas paseban dan makanan lainya. Selain itu di keraton juga terdapat masjid kesultanan yang di namakan masjid jammik’ yang sampai sekarang masih kokoh dan terawat beberapa di dalam nya masih Banyak terdapat benda benda peninggalan sultan contoh nya MIMBAR sampai sekarang belum berubah aslinya.
Di bagian dalam keraton tersebut  bangunan tempat Sultan dan pembantunya bekerja, tersimpan beberapa benda pusaka kesultanan, di antaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan Sultan, gong, tombak, payung kuning yang merupakan lambang kesultanan sambas.
Di belakang keraton juga terdapat kolam yang dahulunya merupakan kolam untuk mandi dan berenang anak anak kerabat keraton, hanya saja saat ini kolam nya kurang terawat.
Pengurus terakhir keraton sambas adalah PANGERAN  RATU WINATA KUSUMA tapi  Setelah wafat nya H.RADEN WINATA KUSUMA di wariskan lah kepada putra pertama dan satu satunya yang bernama RADEN MUHAMMAD TARHAN sebagai Pangeran Ratu Kesultanan Sambas yang berlangsung pada tanggal 2 februari 2008 pada saat itu putranya masih duduk di tingkat SMA hingga sekarang, dan sampai kini beliau sedang menuntut ilmu di Jawa, tinggal lah IBU dan ke 2 adiknya yang menempati keraton tersebut yang bernama RADEN NAJWA KUSUMA dan si Bungsu RADEN TAUFIKIAH PUTRI yang kini duduk di bangku SMP.
Di dalam keraton juga terdapat  Pusaka yang masih terjaga yaitu Meriam lele yang jumlahnya 7 buah hingga sekarang masih dianggap barang keramat dan sering diziarahi penduduk. Masing-masing meriam yang berukuran kesil ini mempunyai nama, yaitu Raden Mas, Raden Samber, Ratu Kilat, Ratu Pajajaran, Ratu Putri, Raden Pajang, dan Panglima Guntur. Diceritakan meriam pusaka ini merupakan hasil pertapaan para Sultan.
Bangunan utama keraton terhitung sangat luas Terdiri atas tujuh ruangan, yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan. Di bagian atas ambang pintu yang menghubungkan balairung dan ruang keluarga, terdapat lambang Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan van Sambas” dan angkatahun 15 Juli 1933. Angka tahun ini merupakan tanggal peresmian bangunan keraton.
Di bagian dalam bangunan ini, pada kamar tidur Sultan tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya tempat peraduan sultan, pakaian kebesaran, payung kesultanan, pedang, getar, dan meja tulis Sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas, juga banyak tempayan tempayan besar terlihat d situ dan ada juga 2 buah kaca yang ukuran nya sangat besar terletak di pojok kanan dan kiri di dalam bangunan keraton sambas.