SEJARAH KERATON
KOTA SAMBAS
Pada hari sabtu sepeulang dari kuliah saya dan teman teman
pergi ke keraton untuk mengobservasikan tentang sejarah keraton sambas pada
saat itu ramai pengunjung yang datang sambil menikmati detik detik tenggelam
nya matahari tak lupa juga berfoto foto.
Keraton-sambas adalah Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas
terletak di sebuah kota kecil yang sekarang dikenal dengan nama Sambas tepat
nya lagi di Desa Dalam Kaum sambas. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas
terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang berukuran sekitar
16.781 meter persegi membujur arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat
beberapa buah bangunan, yaitu dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, dua
buah gerbang, dua buah paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan inti
keraton (balairung), dapur, dan masjid sultan dan sekarang bnyak bangunan yang
kurang memadai lagi seperti dermaga tempat dimana perahu singgah di karenakan
bangunan nya goyang dan saat ini masih belum di prbaiki tetapi Masih bnyak
pengunjung yang tertarik untuk menikmati kota sambas melalui perau tersebut
untuk merasakan ke indahan sungai sambas.
Bangunan keraton menghadap ke arah barat ke arah sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat Sungau Sambas Kecil, ke arah selatan terdapat Sungai Teberau dan sungai subah , lokasi 3 persimpangan inilah yang di sebut MUARA ULAKKAN.
Bangunan keraton menghadap ke arah barat ke arah sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat Sungau Sambas Kecil, ke arah selatan terdapat Sungai Teberau dan sungai subah , lokasi 3 persimpangan inilah yang di sebut MUARA ULAKKAN.
Di sekeliling tanah keraton merupakan daerah rawa-rawa dan
mengelompok di beberapa tempat terdapat makam keluarga sultan. Bangunan keraton
yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632 (sekarang telah
dihancurkan), sedangkan keraton yang masih berdiri sekarang dibangun pada tahun
1933. Sebagai sebuah keraton di tepian sungai, di mana sarana transportasinya
perahu/ kapal, tentunya di tepian sungai dibangun dermaga tempat perahu/kapal
sultan bersandar. Dermaga yang terletak di depan keraton dikenal dengan nama
jembatan Seteher. Jembatan ini menjorok ke tengah sungai. Dari dermaga ini ada
jalan yang menuju keraton dan melewati gerbang masuk untuk menuju keraton
sambas. Gerbang masuk yang menuju halaman keraton dibuat bertingkat dua dengan
denahnya berbentuk segi delapan Bagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan
tempat beristirahat bagi rakyat yang hendak menghadap sultan, dan bagian atas
digunakan untuk tempat mengatur penjagaan. Selain itu, bagian atas pada
saat-saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan agar rakyat
seluruh kota dapat mendengar kalau ada keramaian di keraton.
Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan, di tengah halaman keraton dapat dilihat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan tiang penyangganya melambangkan empat pembantu sultan yang disebut wazir. Di bagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam, dan salah satu di antaranya bernama Si Gantar Alam.
Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan, di tengah halaman keraton dapat dilihat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan tiang penyangganya melambangkan empat pembantu sultan yang disebut wazir. Di bagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam, dan salah satu di antaranya bernama Si Gantar Alam.
Sebelum memasuki keraton, dari halaman yang ada tiang
benderanya, kita harus melalui lagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juga
terdiri dari dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Lantai
bawah tempat para penjaga yang bertugas selama 24 jam, sedangkan lantai atas dipakai
untuk keluarga sultan beristirahat sambil menyaksikan aktivitas kehidupan
rakyatnya sehari-hari. Setelah melalui gerbang kedua dan pagar halaman inti, sampailah
pada bangunan keraton.
Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan. Pada masa lampau bangunan ini berfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama seperti bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Sultan dan pembantunya bekerja. Dari bangunan tempat Sultan bekerja dan bangunan utama keraton dihubungkan dengan koridor beratap dan sekarang di gunakan untuk jualan khususnya makanan khas sambas yaitu bubur pedas paseban dan makanan lainya. Selain itu di keraton juga terdapat masjid kesultanan yang di namakan masjid jammik’ yang sampai sekarang masih kokoh dan terawat beberapa di dalam nya masih Banyak terdapat benda benda peninggalan sultan contoh nya MIMBAR sampai sekarang belum berubah aslinya.
Di bagian dalam keraton tersebut bangunan tempat Sultan dan pembantunya bekerja, tersimpan beberapa benda pusaka kesultanan, di antaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan Sultan, gong, tombak, payung kuning yang merupakan lambang kesultanan sambas.
Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan. Pada masa lampau bangunan ini berfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama seperti bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Sultan dan pembantunya bekerja. Dari bangunan tempat Sultan bekerja dan bangunan utama keraton dihubungkan dengan koridor beratap dan sekarang di gunakan untuk jualan khususnya makanan khas sambas yaitu bubur pedas paseban dan makanan lainya. Selain itu di keraton juga terdapat masjid kesultanan yang di namakan masjid jammik’ yang sampai sekarang masih kokoh dan terawat beberapa di dalam nya masih Banyak terdapat benda benda peninggalan sultan contoh nya MIMBAR sampai sekarang belum berubah aslinya.
Di bagian dalam keraton tersebut bangunan tempat Sultan dan pembantunya bekerja, tersimpan beberapa benda pusaka kesultanan, di antaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan Sultan, gong, tombak, payung kuning yang merupakan lambang kesultanan sambas.
Di belakang keraton juga terdapat kolam yang dahulunya
merupakan kolam untuk mandi dan berenang anak anak kerabat keraton, hanya saja
saat ini kolam nya kurang terawat.
Pengurus terakhir keraton sambas adalah PANGERAN RATU WINATA KUSUMA tapi Setelah wafat nya H.RADEN WINATA KUSUMA di
wariskan lah kepada putra pertama dan satu satunya yang bernama RADEN MUHAMMAD
TARHAN sebagai Pangeran Ratu Kesultanan Sambas yang berlangsung pada tanggal 2
februari 2008 pada saat itu putranya masih duduk di tingkat SMA hingga
sekarang, dan sampai kini beliau sedang menuntut ilmu di Jawa, tinggal lah IBU
dan ke 2 adiknya yang menempati keraton tersebut yang bernama RADEN NAJWA
KUSUMA dan si Bungsu RADEN TAUFIKIAH PUTRI yang kini duduk di bangku SMP.
Di dalam keraton juga terdapat Pusaka yang masih terjaga yaitu Meriam lele
yang jumlahnya 7 buah hingga sekarang masih dianggap barang keramat dan sering
diziarahi penduduk. Masing-masing meriam yang berukuran kesil ini mempunyai
nama, yaitu Raden Mas, Raden Samber, Ratu Kilat, Ratu Pajajaran, Ratu Putri,
Raden Pajang, dan Panglima Guntur. Diceritakan meriam pusaka ini merupakan
hasil pertapaan para Sultan.
Bangunan utama keraton terhitung sangat luas Terdiri atas tujuh ruangan, yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan. Di bagian atas ambang pintu yang menghubungkan balairung dan ruang keluarga, terdapat lambang Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan van Sambas” dan angkatahun 15 Juli 1933. Angka tahun ini merupakan tanggal peresmian bangunan keraton.
Di bagian dalam bangunan ini, pada kamar tidur Sultan tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya tempat peraduan sultan, pakaian kebesaran, payung kesultanan, pedang, getar, dan meja tulis Sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas, juga banyak tempayan tempayan besar terlihat d situ dan ada juga 2 buah kaca yang ukuran nya sangat besar terletak di pojok kanan dan kiri di dalam bangunan keraton sambas.
Bangunan utama keraton terhitung sangat luas Terdiri atas tujuh ruangan, yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan. Di bagian atas ambang pintu yang menghubungkan balairung dan ruang keluarga, terdapat lambang Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan van Sambas” dan angkatahun 15 Juli 1933. Angka tahun ini merupakan tanggal peresmian bangunan keraton.
Di bagian dalam bangunan ini, pada kamar tidur Sultan tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya tempat peraduan sultan, pakaian kebesaran, payung kesultanan, pedang, getar, dan meja tulis Sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas, juga banyak tempayan tempayan besar terlihat d situ dan ada juga 2 buah kaca yang ukuran nya sangat besar terletak di pojok kanan dan kiri di dalam bangunan keraton sambas.